Artikel

Peraturan Tak Tertulis

Peraturan Tak Tertulis Pernah terbayang kenapa ada peraturan tidak tertulis? Menurutku, peraturan tidak tertulis ini bisa diartikan sebag…

Peraturan Tak Tertulis

Pernah terbayang kenapa ada peraturan tidak tertulis? Menurutku, peraturan tidak tertulis ini bisa diartikan sebagai norma atau etika yang ada di masyarakat dan ada nilai tertentu untuk seseorang yang melakukannya. Namun, bagaimana jika suatu saat norma atau etika ini disalah gunakan? Bagaimana juga, jika suatu saat ada norma atau etika baru yang muncul selama bertambahnya tahun?.

aku pernah membaca sebuah artikel yang menuliskan bahwa ada penurunan tingkat pernikahan di Indonesia yang disebabkan oleh banyak perempuan yang lebih memilih karir mereka dibandingkan melakukan pernikahan dan terlalu sedikit laki – laki mapan untuk menjalin hubungan pernikahan. Aku juga pernah membaca berita di aplikasi sosial media, seorang suami yang berselingkuh dan melakukan zina saat istrinya melaksanakan ibadah umroh, dan ada juga seorang suami menikam istrinya saat melakukan live dengan alasan cemburu. Menurutku, karna peristiwa atau kejadian inilah yang membuat beberapa perempuan lebih memilih karir mereka karena membayangkan “Marriage is scary”.

Perempuan berusia lebih dari 25 tahun yang belum menikah akan dijudge “tidak laku”. Ada seorang content creator women yang menceritakan pengalamannya bertemu dengan ibu ibu stranger yang menyuruhnya cepat menikah karna usianya sudah 25 tahun. Lalu, memangnya kenapa jika berusia seperempat abad belum menikah? Apakah menikah bagi perempuan sudah ada batasan usianya?.

Kodrat “perempuan setelah menikah akan dirumah saja” ini yang membuat beberapa orang dari kalangan Gen X berpikir bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi, dengan istilah “jangan menginjak harga diri laki – laki dengan kamu perempuan yang lebih berpendidikan”. Lalu, kenapa tidak laki – laki saja yang mempertahankan harga dirinya sendiri dengan lebih berpendidikan? Kenapa kita sebagai perempuan yang mengalah dan meninggalkan impian kita?. Aku takut, kodrat seperti ini akan menjadi peraturan tidak tertulis yang akan digunakan untuk menjudge perempuan yang berusia matang tetapi belum menikah.

Di dalam keluarga besarku, aku adalah anak perempuan pertama di antara para saudara perempuan yang melanjutkan pendidikan dengan berkuliah. Mereka pikir, ibuku hanya omong kosong saat ibuku mengatakan akan menyekolahkanku pada jenjang perkuliahan. Dengan keadaan finansial dan mental keluargaku yang tidak begitu baik, jadi mungkin saja mereka berpikir seperti itu. Padahal, biaya untuk pendidikan itu masih bisa dicari dengan mencari berbagai beasiswa yang sudah ada dan juga mental itu masih bisa diperbaiki dengan berteman dengan teman yang baik dan tidak selalu berpikir negatif.

“apa kamu kurang pintar, sampai kamu harus sekolah lagi untuk dapat pekerjaan?”

“kamu itu perempuan, ngapain sekolah tinggi, langsung kerja aja biar bisa balas budi ke orang tua sebelum kamu diambil suamimu”

“mau nikah kapan? Sampe orang tuamu sudah tidak sanggup gendong cucu?”

Kata kata seperti itu sudah pernah aku dapatkan. Dengan berusaha dan berpikir baik tentang masa depan, aku yakin bisa mengalahkan statement yang orang lain lontarkan padaku.

Berkuliah sarjana untuk memiliki gelar membantu kita sebagai perempuan agar tidak diremehkan dan peluang kerja kita akan lebih banyak, dengan pekerjaan yang lebih baik akan membantu kita membalas budi yang lebih baik juga. Namun, bukan berarti perempuan yang tidak berkuliah bisa diremehkan. Menurutku, mereka yang tidak berkuliah tetapi berhasil membangun usahanya adalah orang yang kaya akan mental dan ilmu sosial. Mereka berani menunjukkan usahanya dengan berbagai resiko yang akan dihadapi, berani berinteraksi terhadap masyarakat yang akan menjudge dengan berbagai alasan, dan berani mendorong dirinya sendiri untuk kabur dari zona nyaman.

Untuk pernikahan, bukan kah lebih baik dilakukan saat diri seseorang benar benar sudah siap? Siap secara mental dan finansial tentunya. Karena banyaknya masalah rumah tangga yang disebabkan oleh pernikahan usia dini seperti seorang istri yang masih belum puas dengan dunia remajanya, atau seorang suami yang belum sanggup menghidupi diri dan keluarganya, atau bahkan seorang suami dan istri yang sama sama egois dan berjalan sesuai apa kata orang tua masing masing.

Karena akan susah mengubah mindset seseorang tentang perempuan yang berpendidikan dan belum menikah, kita perlu menunjukkan bukti bukti nyata yang bisa mengubah mindset itu. Bagaimana menurutmu?

Jangan paksakan dirimu untuk melakukan apa yang orang lain katakan, raih impianmu dengan memfokuskan diri terhadap masa depan yang akan dijalani, Tidak insecure, tidak menunda, dan tidak terlambat. SEMANGATT!!! Semoga kamu didekatkan dengan orang orang baik.

Shofia Faradita
Tentang penulis

Shofia Faradita

Aku Shofia, seorang mahasiswa akuntansi yang memiliki minat dalam menulis sesuatu serta menyukai perpaduan kreativitas dan analisis. Antusias terhadap tantangan baru dan terus bertumbuh di dunia profesional.

Lihat Semua Tulisan →

Mari Mengenal Lewat Tulisan Sebuah ruang kecil yang berisi kata, cerita, dan kreativitas.

Terima Kasih telah mengunjungi website pribadiku. Semoga setiap tulisan yang aku bagikan dapat memberikan makna dan menemanimu

Mulai Membaca