Tempat yang Tidak Bertanya
Motor itu akhirnya melambat ketika langit mulai gelap.
Jonan baru sadar mereka sudah cukup jauh dari taman.
Lampu-lampu rumah berjajar rapi di kiri kanan jalan. Tidak ada teriakan. Tidak ada suara pintu dibanting. Sean berhenti di depan sebuah rumah bercat putih dengan pagar rendah. Ia mematikan mesin.
“Sampai,” katanya pelan.
Jonan turun tanpa bertanya kenapa. Ia hanya berdiri, menatap rumah itu seperti sedang memastikan sesuatu.
“Rumah lo?” tanyanya akhirnya.
Sean mengangguk. “Masuk aja.”
Jonan ragu sepersekian detik. Refleks lama hampir membuatnya menolak. Tapi ia terlalu lelah untuk melawan siapa pun malam itu.
Sean membuka pintu diikuti Jonan dibelakanganya.
“ma.. pa.. aku pulang”
“ selamat datang, kok maleman pulangnya?” sapa ibunya tanpa memalingkan wajahnya dari masakannya.
Sean melangkah sedikit mendekat. “Ma, ada Jonan.”
Ibu Sean langsung menoleh. Tersenyum. Tidak terkejut. Tidak bertanya macam-macam.
“Halo, Jonan. Ayo masuk sini, kita makan malam bareng ya” Nada itu terlalu lembut.
Jonan mengangguk kecil dan mengikuti Sean masuk.
Rumah itu hangat. Bukan hanya karena lampunya, tapi karena suasananya.
Aroma masakan menyebar dari dapur. Ayah Sean menoleh dari ruang tamu.
“Duduk, Nak.”
Jonan duduk kaku di ujung sofa. Tangannya saling menggenggam, seperti takut melakukan kesalahan. Makan malam berlangsung sederhana. Tidak ada keheningan canggung. Ibu Sean beberapa kali menambahkan lauk ke piring Jonan.
“Kamu makan sedikit banget,” katanya pelan.
Jonan menurut. Ia tidak ingat kapan terakhir kali seseorang memperhatikannya seperti itu. Setelah makan, ibu Sean membereskan piring.
“malam ini nginep aja, tidur sama mama ya Jo?” tanyanya.
Jonan refleks menjawab, “saya pulang aja, tante.”
Sean menoleh. “Udah malam.”
“iya tuh, udah malam”
Jonan hendak menolak. Tapi kata-kata itu berhenti di tenggorokannya. Ia terlalu lelah untuk pulang ke rumah yang tadi. Akhirnya ia mengangguk.
Malam itu, Jonan tidur di kamar mendiang anak sulung keluarga itu. Selimutnya bersih, bantalnya empuk, seperti selalu dibersihkan meskipun sudah tidak ada pemiliknya. Kamar itu sunyi, tapi sunyi yang tidak mengancam. Jonan berbaring menatap langit-langit. Dan entah kenapa, rasa aman itu justru membuat dadanya terasa sesak.
Air mata menetes pelan. Ia membalikkan badan, memeluk bantal. Isaknya tertahan. Pintu kamar terbuka pelan. Ibu Sean masuk tanpa menyalakan lampu utama.
“Kamu belum tidur?” tanyanya lembut.
Jonan mencoba menjawab, tapi yang keluar malah isakan kecil.
“Aku.. kangen bunda..”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Seperti pengakuan yang sudah terlalu lama dikubur. Ibu Sean duduk di tepi ranjang. Tangannya mengusap rambut Jonan perlahan. Jonan tidak menahan lagi. Tangisnya pecah.
Ia bercerita dengan suara terputus-putus. Tentang ibunya yang meninggal. Tentang rumah yang berubah sejak itu. Tentang ayah yang tidak lagi mendengar. Tentang pukulan yang selalu datang tanpa penjelasan.
Ibu Sean mendengarkan. Tidak menyela. Tidak menghakimi. Ketika cerita itu habis, ibu Sean memeluknya.
“Kamu boleh capek,” katanya pelan. “Kamu boleh sedih.”
Jonan terisak di pelukan itu. Ia tidak ingat kapan terakhir kali diizinkan merasa seperti itu. Ia tertidur dengan mata sembab, napas tak lagi terengah. Ia tidur tanpa takut pagi datang.
Di kamar sebelah, Sean bersandar di pintu. Ia mendengar isak itu. Dan malam itu, satu keputusan terbentuk pelan di dadanya.
Ia tidak akan membiarkan Jonan menghadapi semuanya sendirian lagi.