Kartini Masa Kini: Perempuan Berdaya dan Berdampak
Empowerment atau Justru Beban Ganda?
Semangat Kartini itu sebenarnya masih relate sampai sekarang. Dulu, Kartini memperjuangkan hak perempuan untuk sekolah, berpikir bebas, dan punya kesempatan yang setara dengan laki-laki. Hari ini, banyak perempuan sudah berani untuk menempuh pendidikan tinggi, mempunyai karir di berbagai bidang, bahkan jadi pemimpin. Tapi apakah ini benar benar empowerment atau malah jadi beban ganda untuk perempuan?.
Faktanya, banyak perempuan harus “double role”. Di luar rumah sebagai pekerja dan di dalam rumah sebagai pengurus rumah tangga. Pulang kerja bukan berarti selesai, tapi dituntut untuk mengurus keluarga dan rumah. Belum lagi yang masuk golongan sandwich generation, yang harus bantu orang tua sekaligus mikirin biaya sekolah adik. Ditambah lagi mental load, bukan sekedar “kepikiran” tapi ada banyak hal yang harus diingat dan diatur.
Di sisi lain, masih ada anggapan lama yang terus menerus diulang, setinggi apa pun pendidikan perempuan, kewajiban utamanya tetap di rumah. Bahkan ada perempuan yang menjabat sebagai anak sulung, merasa “wajib” menanggung keluarga dan melepas kehidupan pribadinya.
Kartini sendiri juga manusia, bukan tokoh yang sempurna. Ia menolak poligami, tapi akhirnya tetap menjadi istri keempat Bupati Rembang pada saat itu. Ini bukan semata pengkhianatan, melainkan refleksi realitas sosial dan strategi untuk tetap memperjuangkan pendidikan perempuan, caranya bertahan di sistem yang tidak sepenuhnya bisa ia ubah saat itu.
Jadi, yang perlu kita pahami ulang, bukan soal perempuan harus bisa semuanya, tapi perempuan punya pilihan tanpa tekanan, tanpa beban ganda yang tidak adil.