Cerita

(Akhir) Shankara

Bandara Soekarno-Hatta ramai seperti biasa. Rayyan berdiri dengan koper dan ransel di punggung. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Jerm…

Bandara Soekarno-Hatta ramai seperti biasa. Rayyan berdiri dengan koper dan ransel di punggung. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Jerman. Pikirannya tidak tenang. Ia menolak dijemput orang tuanya. Ia tidak ingin ke rumah dulu. Ia hanya ingin ke satu tempat, rumah Anis.

Sementara itu, di sebuah rumah kecil yang hangat di pinggir kota, Anis sedang menyuapi Fathi, anak kecil berumur empat tahun yang sudah seperti anak kandung sendiri baginya. Fathi adalah keponakan yang diasuhnya sejak lama, anak dari kakaknya, Vanessa, yang kini tinggal di luar negeri. Suapan demi suapan diselingi celoteh polos Fathi yang kadang membuat Anis tersenyum lelah tapi penuh cinta.

Saat itulah suara mobil berhenti di depan rumah. Bukan suara yang biasa. Fathi menoleh dengan mulut belepotan.

“Siapa, Bunda?” tanyanya penasaran.

Anis meletakkan sendok dan berdiri, melongok lewat jendela. Sebuah mobil berhenti perlahan, lalu dari pintunya keluar seorang pria dengan koper. Langkahnya mantap, namun sorot matanya gugup.

Dan saat pintu terbuka, di sanalah dia, Rayyan. Berdiri di ambang pintu, dengan rambut sedikit lebih panjang dari terakhir kali mereka video call, tubuhnya tampak lebih tegap, dan ada ketenangan berbeda di wajahnya. Matanya langsung bertemu dengan mata Anis, dan dunia seolah berhenti sejenak.

“Aku pulang,” katanya pelan, namun suaranya jelas, menggetarkan sesuatu di dada Anis yang selama ini dia tekan.

Anis tak langsung bereaksi. Seperti seseorang yang tak yakin apakah ia sedang bermimpi. Tangannya masih memegang gagang pintu, matanya membulat, lalu... air matanya mengalir tanpa permisi. Hening mengisi jarak mereka yang begitu dekat, tapi juga begitu panjang.

Fathi, yang penasaran melihat bundanya menangis, berjalan kecil menghampiri. Ia berdiri di balik rok Anis, memegangi ujung kain dengan tangan mungilnya.

Rayyan menunduk, kemudian perlahan berjongkok agar sejajar dengan si kecil. Senyumnya merekah, hangat dan penuh kerinduan yang tertahan bertahun-tahun.

“Kamu pasti Fathi,” sapanya lembut. “Aku Rayyan. Teman lama bunda kamu.”

Fathi menatapnya sejenak, bingung, lalu matanya menyipit polos. “Teman yang di HP?”

Anis tertawa di tengah tangisnya, terisak namun tulus. Suara kecil Fathi seolah melepaskan ketegangan yang menumpuk bertahun-tahun. Ia mengangguk, menyeka air matanya dengan punggung tangan.

“Iya, Fathi. Ini teman yang sering di HP.”

Rayyan tertawa pelan. Suara tawa yang sama seperti dulu, tapi kini lebih tenang. Lebih dewasa. Ia berdiri kembali, menatap Anis dengan pandangan penuh makna. “Boleh masuk?” tanyanya lirih.

Anis mengangguk. Langkah Rayyan memasuki rumah itu terasa seperti penutup sekaligus pembuka. Penutup dari masa lalu yang panjang dan rumit, pembuka untuk kisah yang mereka belum sempat tulis bersama.

Di ruang tamu yang sederhana itu, ketiganya duduk. Fathi memanjat pangkuan Anis, tapi matanya tak lepas dari pria asing yang entah kenapa terasa familiar. Rayyan membuka sedikit cerita tentang perjalanannya, bagaimana ia melewati malam-malam panjang di negeri asing dengan hanya suara Anis sebagai penguat lewat ponsel, tentang bagaimana ia tak pernah benar-benar merasa pulang meski ia sudah berada di apartemennya disana, karena rumahnya ternyata bukan alamat, tapi seseorang.

Anis mendengarkan, matanya tak lepas dari Rayyan. Dan di satu titik, ia tahu, pria ini, yang dulu sering diam di bangku sekolah, yang pernah berkata “Aku ini cuma piala pajangan,” kini kembali dengan luka yang telah sembuh perlahan dan dengan keberanian untuk mengetuk pintu hatinya.

Dan di situlah semuanya bermula Kembali, dengan sederhana, dengan lembut. Bukan dalam gegap gempita atau adegan dramatis, tapi dalam pertemuan mata, dan senyum yang saling menyapa.

Penutup yang Hangat

Pada malam hari, di taman kota tempat Anis dulu sering menyendiri, Rayyan duduk bersama Anis dan Fathi yang sedang makan es krim. Angin malam berhembus pelan.

"Aku sudah melamar pekerjaan di dekat sini. Kalau diterima, aku akan tinggal di dekat rumahmu dan Fathi.”

"Rayyan, kamu nggak harus—"

"Aku mau, Nis. Aku mau ada di sisi kamu. Bukan karena kasihan. Tapi karena aku cinta kamu."

Fathi menatap mereka berdua, lalu berkata, "Aku boleh panggil Om Rayyan... Ayah?"

Rayyan terdiam.

"Boleh banget," jawabnya pelan sambil memeluk Fathi dan Anis sekaligus.

Di kejauhan, Yaya dan Tata mengintip dari belakang bangku taman. "Akhirnya," bisik Tata sambil mengusap air mata.

"Happy ending... tapi jangan lupa, habis ini nikah ya," tambah Yaya dengan gaya jahilnya.

Anis melirik mereka dan tertawa. Hatinya penuh. Malam itu, langit tidak berbintang, tapi hati mereka bersinar.

Shofia Faradita
Tentang penulis

Shofia Faradita

Aku Shofia, seorang mahasiswa akuntansi yang memiliki minat dalam menulis sesuatu serta menyukai perpaduan kreativitas dan analisis. Antusias terhadap tantangan baru dan terus bertumbuh di dunia profesional.

Lihat Semua Tulisan →

Mari Mengenal Lewat Tulisan Sebuah ruang kecil yang berisi kata, cerita, dan kreativitas.

Terima Kasih telah mengunjungi website pribadiku. Semoga setiap tulisan yang aku bagikan dapat memberikan makna dan menemanimu

Mulai Membaca