Hari-hari Anis dan Rayyan terus berjalan, semakin terasa nyaman meski tak ada status yang pasti. Keduanya seperti dua orang yang saling mengisi celah satu sama lain. Tapi hidup tak pernah membiarkan segalanya berjalan mulus begitu saja.
Saat itu, bulan April telah tiba. Ujian kelulusan sudah di depan mata. Anis semakin sibuk, buku catatan menumpuk, jam tidur berkurang, dan waktu untuk bersantai hampir tak ada. Ia pun mulai jarang ngobrol dengan Rayyan, kecuali saat jam istirahat dan kelas kelompok.
Suatu sore, saat Anis baru saja selesai belajar di perpustakaan, ia melihat Mamanya menelepon berkali-kali. Ada 10 panggilan tak terjawab. Ponselnya bergetar lagi, kali ini dari Bu Win.
"Anis, kamu di mana? Cepat pulang ya. Ini penting."
Nafas Anis tercekat. Ia segera mengepak bukunya dan berlari menuju gerbang sekolah. Sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk.
Saat tiba di rumah, suasana begitu hening. Tapi hening yang tidak biasa. Mamanya berdiri di depan pintu ruang tamu, tampak gelisah. Di dalam, terdengar suara tangisan bayi.
Anis melangkah masuk. Matanya membelalak.
Vanessa.
Kakak perempuan Anis yang sudah dua tahun menetap di Amerika untuk kuliah, kini duduk di sofa. Rambutnya diikat asal, wajahnya letih, dan di pangkuannya... seorang bayi mungil sedang menangis.
"Kak Vanessa...?"
Vanessa menatap Anis, matanya sembab. "Nis... kakak... kakak minta maaf..."
Bu Win duduk di samping Vanessa, mencoba menenangkan bayi yang tampak lapar. Anis berdiri kaku.
"Itu... anak kakak?"
Vanessa mengangguk pelan. "Kami sudah merencanakan pernikahan. Tapi... dia meninggal satu minggu yang lalu. Kecelakaan mobil."
Anis menggigit bibir. Rasa bingung, kecewa, dan sedih bercampur jadi satu. Ia menatap Mamanya, berharap ada penjelasan.
"Vanessa nggak boleh menjadi seperti ini," suara Mamanya bergetar. "Dia harus kembali menyelesaikan pendidikannya, dan... untuk bayi ini... akan tinggal dengan kamu."
"Tapi... kenapa aku?"
Mamanya terdiam. Vanessa menunduk. Bu Win menjawab pelan, "Anis, kamu gadis yang kuat. Kita akan bantu. Tapi kamu yang terbaik untuk merawat bayi ini sekarang."
Anis merasa seperti dijatuhkan ke dalam lubang tanpa dasar. Ujian kelulusan sebentar lagi. Ia bahkan belum tahu arah hidupnya setelah sekolah. Dan sekarang... harus menjadi ibu untuk anak kakaknya?
###
Hari-hari berikutnya menjadi mimpi buruk bagi Anis. Ia tetap ke sekolah, tetap belajar, tetap menghadapi ujian, tapi pikirannya tak pernah tenang. Setiap malam ia harus bangun beberapa kali karena bayi menangis. Segalanya terasa berat dengan hati yang tak ikhlas.
Tata dan Yaya mulai khawatir karena Anis terlihat sangat lelah. Bahkan Rayyan pun memerhatikan perubahan itu.
Suatu siang, saat jam istirahat, Rayyan duduk di sebelah Anis di bangku belakang taman sekolah.
"Kamu kenapa?"
Anis memaksakan senyum. "Cuma kecapekan."
Rayyan mengernyit. "Anis, aku tahu kamu bukan tipe yang nyerah. Tapi ada sesuatu yang kamu sembunyikan, kan?"
Anis tak menjawab.
"Aku ke rumahmu kemarin sore, mau balikin buku, tapi Bu Win yang buka pintu. Dia cerita sedikit..."
Anis menunduk. Sekuat apapun ia mencoba menyembunyikannya, rahasia itu akhirnya terungkap juga.
Rayyan melanjutkan, "Kamu yang sering bilang, nggak ada yang sendirian,. Kalau kamu butuh bantuan... bilang."
"Bantuan apa? Kamu bisa gendong bayi? Atau ngurus bayi?" tanya Anis dengan nada getir.
Rayyan tertawa kecil. "Kalau perlu, bisa diatur."
Anis menatapnya. Ingin menangis, ingin memeluk Rayyan, ingin berkata kalau ia lelah. Tapi ia memilih diam. Ia tidak mau membebani Rayyan.
Tapi beban itu terlalu berat untuk dipikul sendiri.