Cerita

7 Shankara

Sejak duduk sebangku dengan Anis, hari-hari sekolah perlahan berubah warna bagi Rayyan. Belajar yang tadinya terasa membosankan dan terpaksa…

Sejak duduk sebangku dengan Anis, hari-hari sekolah perlahan berubah warna bagi Rayyan. Belajar yang tadinya terasa membosankan dan terpaksa, kini punya sedikit kesenangan yang menemaninya. Anis, dengan caranya yang ceroboh tapi tulus, membawa semacam cahaya ke ruang yang selama ini hanya diisi kesunyian, yang tanpa sadar selalu menyapanya duluan, selalu membawa dua bungkus jajanan walaupun katanya “satu buat jaga-jaga”, dan selalu mengingatkan PR, bahkan yang Rayyan sudah kerjakan.

Tapi hangatnya sekolah, tidak mengubah dinginnya rumah.

Malam itu masih jelas terngiang di benaknya. Nada suara ayahnya yang keras, penuh kemarahan dan kekecewaan “JUARA DUA, RAYYAN?! Apa gunanya kamu belajar tiap malam kalau cuma bisa di urutan kedua?!”

Plak!

Pipinya masih berdenyut. Ibunya, alih-alih menenangkan, justru ikut menambahkan tekanan. Suaranya terdengar tajam dan merendahkan.

“Malu! Kamu tahu gak? Tante Ririn anaknya dapet emas di olimpiade fisika. Kamu? Juara dua, itu pun dengan susah payah!”

Rayyan hanya diam. Diam sudah jadi kebiasaannya sejak lama. Sejak ia tahu, protes hanya membuat tangan ayahnya lebih cepat terangkat. Sejak ia sadar, nilai dan prestasi bukan lagi tentang kebanggaan pribadi, tapi tentang status sosial orang tuanya.

###

Di sekolah, Anis mulai curiga. Setiap kali ia menyentuh tangan Rayyan, entah menarik kertas dari mejanya atau hanya iseng melempar permen, Rayyan seperti meringis. Suatu hari, Anis tak tahan.

“Rayyan... boleh jujur gak?” tanya Anis pelan saat mereka duduk berdua di pojok perpustakaan.

Rayyan menoleh tanpa kata.

“Aku tahu kamu bukan habis tawuran. Tapi kamu juga gak jatuh dari tangga setiap minggu, kan?”

Rayyan terdiam. Matanya menatap kosong ke arah buku yang terbuka tapi tak terbaca.

“Rayyan... kamu dipukul ya?”

Seolah ditampar oleh kenyataan, Rayyan langsung menutup bukunya. Anis mengira Rayyan akan pergi, seperti biasa. Tapi hari itu berbeda.

Rayyan hanya berkata pelan, hampir seperti bisikan, “Aku ini... piala mereka. Dipajang saat menang. Disimpan saat rusak.”

Anis menahan napas.

“Kalau aku gak bisa kasih mereka sesuatu untuk dibanggakan, aku dianggap gak berguna. Mereka gak bilang langsung dengan gamblang... tapi ya... tangan ayahku yang ngomong,” lanjut Rayyan, menunduk, menyembunyikan luka yang lebih dalam dari memar di tubuhnya.

Anis tak tahu harus berkata apa. Ia tidak akan berpura-pura bijak atau memberi nasihat murahan. Yang ia lakukan hanya satu, mengulurkan tangannya, menyentuh bahu Rayyan perlahan. Genggamannya bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk menguatkan.

“Rayyan... kamu nggak sendiri,” bisiknya dengan suara paling lembut yang bisa ia keluarkan.

###

Hari berikutnya, Anis tak bisa duduk tenang. Saat jam pulang, ia mendatangi Bu Rahma di ruang guru.

“Bu... saya mau bicara soal temen saya. Tapi tolong jangan bilang ini dari saya.”

“Rayyan?” tebak Bu Rahma dengan senyum samar.

Anis terkejut. “Bu Rahma tahu?”

Bu Rahma mengangguk pelan. “Saya sudah cukup lama mengajar, Anis. Luka yang tersembunyi itu kadang lebih jelas terlihat daripada yang mereka kira. Tapi untuk sembuh, mereka butuh teman... dan saya senang kamu bisa jadi teman itu.”

Ada kehangatan yang menelusup ke dada Anis. Mungkin kecil, tapi cukup membuatnya yakin bahwa langkahnya tidak sia-sia.

###

Hari Jumat, sekolah mengadakan upacara khusus untuk pengumuman pemenang lomba akademik. Lapangan penuh dengan siswa. Rayyan duduk di bangkunya, menunduk, tidak terlalu peduli. Hingga...

“Juara 1 Olimpiade Biologi Tingkat Nasional, Rayyan!”

Sorak-sorai menggema. Satu per satu teman-temannya menoleh dan bertepuk tangan. Beberapa berseru senang. Tapi di antara semua tepukan itu, hanya satu yang membuat Rayyan menoleh, tepuk tangan pelan milik Anis. Ia tersenyum. Bukan senyum karena prestasi, tapi senyum karena Rayyan ada. Karena dia cukup.

Namun, bukannya merasa bahagia, Rayyan justru merasa getir. Ia tahu, begitu sampai di rumah, medali ini bukan akan membuatnya lebih dicintai. Hanya akan jadi hiasan baru di lemari kaca orang tuanya. Ia akan diundang ke acara keluarga, disebut-sebut sebagai anak jenius, lalu dilupakan lagi setelah itu.

Sore itu, Rayyan berdiri di gerbang sekolah, menatap ke arah mobil hitam yang menunggunya. Ia belum melangkah, masih ragu. Tapi sebelum ia bergerak, suara itu menahannya.

“Rayyan!.”

Ia menoleh. Anis berdiri di sampingnya, dengan senyum hangat dan mata berbinar.

“Kamu keren banget hari ini. Tapi... kalau kamu capek, kamu boleh istirahat, tahu.”

Rayyan tidak menjawab. Tapi ada sesuatu yang berubah di matanya. Sesuatu yang lama terkubur, rasa dihargai, bukan karena nilai atau medali, tapi karena dirinya sendiri.

Dan itu, lebih berharga dari semua piala dan medali di rumahnya.

Shofia Faradita
Tentang penulis

Shofia Faradita

Aku Shofia, seorang mahasiswa akuntansi yang memiliki minat dalam menulis sesuatu serta menyukai perpaduan kreativitas dan analisis. Antusias terhadap tantangan baru dan terus bertumbuh di dunia profesional.

Lihat Semua Tulisan →

Mari Mengenal Lewat Tulisan Sebuah ruang kecil yang berisi kata, cerita, dan kreativitas.

Terima Kasih telah mengunjungi website pribadiku. Semoga setiap tulisan yang aku bagikan dapat memberikan makna dan menemanimu

Mulai Membaca