Cerita

(7) Pralaya Setalah cahaya

7 – Luka yang Tidak Pernah Diceritakan Sean tidak memberi tahu Jonan bahwa ia akan datang. Sore itu, setelah pulang sekolah, ia …

7 – Luka yang Tidak Pernah Diceritakan

Sean tidak memberi tahu Jonan bahwa ia akan datang.

Sore itu, setelah pulang sekolah, ia hanya mengikuti alamat yang pernah ia dengar sekilas dari teman sekelas.

Rumah itu kecil. Catnya kusam. Pagar besinya sedikit berkarat.

Sean berdiri di luar, ragu untuk mengetuk.

Ia baru mengangkat tangan ketika suara bentakan terdengar dari dalam.

“Kamu pikir ini rumah siapa?!”

Sean membeku. Suara perempuan. Tajam. Menusuk.

“Aku beneran pulang dari sekolah,” suara Jonan terdengar pelan, hampir tidak terdengar.

“Sekolah? Bohong terus kerjaannya!” benar, ia bohong. Setelah pulang sekolah, Jonan mampir sebentar ke markas bertemu teman temannya yang berakhir terlalu sore sampai di rumah. Jonan selalu malas berlama lama di rumah, karena pasti ada sesuatu yang membuatnya disalahkan, dibentak, dan dipukul.

Lalu suara benda terjatuh. Sean mendekat sedikit ke pagar. Pintu rumah terbuka kasar. Ibu tiri Jonan berdiri dengan wajah merah. Tak lama kemudian, ayah Jonan muncul dari dalam.

Tanpa banyak bicara. Tanpa bertanya. Tangannya terangkat. Tamparan itu terdengar jelas bahkan sampai ke tempat Sean berdiri.

Sean refleks menggenggam pagar. Jantungnya berdegup keras.

Ia ingin masuk. Ingin menghentikan. Tapi kakinya terasa berat. Ia takut.

Takut Jonan merasa dipermalukan. Takut kehadirannya justru memperkeruh. Takut membuat semuanya semakin buruk.

“Dasar anak nggak tahu diri!” bentak ayahnya lagi.

Jonan tidak melawan. Ia hanya berdiri menerima, rahangnya mengeras. Pukulan berikutnya membuat tubuhnya terdorong ke samping.

Dan tiba-tiba Jonan berlari keluar rumah. Melewati pagar tanpa melihat siapa pun. Sean cepat mundur ke samping agar tidak terlihat. Jonan berlari melewati gang dengan napas tersengal.

Tanpa sadar, Sean mengikutinya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Sampai akhirnya Jonan berhenti di taman kecil tak jauh dari rumahnya.

Ia duduk di bangku kayu tua. Awalnya ia hanya menunduk. Lalu bahunya mulai bergetar.

Sean berdiri di balik pohon besar, cukup jauh agar tidak terdengar. Ia melihat semuanya.

Tangis yang selama ini tidak pernah Jonan tunjukkan di sekolah. Tangis yang ditahan saat dimarahi guru. Tangis yang ditelan saat diejek teman. Sekarang pecah. Sunyi. Tanpa saksi.

Sean merasa dadanya sesak. Ia tidak tahu harus marah ke siapa. Tidak tahu harus menyalahkan siapa. Yang ia tahu hanya satu, Jonan tidak pantas diperlakukan seperti itu.

Beberapa menit berlalu.

Tangis Jonan perlahan mereda, meski air matanya masih jatuh sesekali. Sean akhirnya berjalan mendekat. Langkahnya pelan, memberi Jonan waktu untuk menyadari kehadirannya.

Jonan mengangkat wajahnya. Matanya merah.

Begitu melihat Sean, ia langsung menghapus air matanya kasar.

“Ngapain lo di sini?”

Sean tidak menjawab. Ia hanya melepas helmnya.

Lalu menyodorkannya ke Jonan.

“Ayo.”

Jonan menatap helm itu beberapa detik. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada penolakan. Ia menerimanya.

Sean tidak banyak bicara. Tidak menanyakan apa pun. Ia hanya menggenggam tangan Jonan sebentar. Lembut.

Bukan untuk menarik paksa. Hanya untuk memastikan ia ada di sana. Mereka berjalan ke tempat motor Sean diparkir.

Jonan naik tanpa komentar. Sean menyalakan mesin. Dan mereka pergi.

Jalanan sore itu terasa panjang. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu. Angin menerpa wajah Jonan, mengeringkan sisa air mata di pipinya.

Ia tidak berbicara. Sean juga tidak.

Motor itu melaju tanpa tujuan. Ke kiri ketika lampu hijau. Ke kanan saat jalan terasa lebih sepi. Sean tidak sedang mencari tempat. Ia hanya sedang memberi waktu, agar Jonan tidak perlu kembali ke rumah itu terlalu cepat.

Shofia Faradita
Tentang penulis

Shofia Faradita

Aku Shofia, seorang mahasiswa akuntansi yang memiliki minat dalam menulis sesuatu serta menyukai perpaduan kreativitas dan analisis. Antusias terhadap tantangan baru dan terus bertumbuh di dunia profesional.

Lihat Semua Tulisan →

Mari Mengenal Lewat Tulisan Sebuah ruang kecil yang berisi kata, cerita, dan kreativitas.

Terima Kasih telah mengunjungi website pribadiku. Semoga setiap tulisan yang aku bagikan dapat memberikan makna dan menemanimu

Mulai Membaca