Keesokan paginya, Anis tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Langit masih tampak muram, dan embun belum sepenuhnya menghilang dari dedaunan halaman sekolah. Tanpa membuang waktu, ia langsung melangkah menuju ruang guru. Saat itu, lorong sekolah masih sepi, dan guru piket belum tiba. Dengan ragu tapi mantap, Anis mengetuk pintu ruang guru yang sedikit terbuka.
Suara kertas disusun menyambutnya dari dalam. Ia melihat Bu Rahma duduk di salah satu meja, tengah sibuk memilah-milah berkas ujian. Guru itu mendongak ketika melihat Anis masuk.
“Selamat pagi, Bu. Maaf ganggu. Saya cuma mau tanya…” Anis menelan ludah, lalu melanjutkan dengan nada cemas, “Rayyan belum masuk hampir seminggu ini. Saya khawatir... Apa beliau izin karena sakit atau... ada hal lain?”
Bu Rahma menatap Anis cukup lama, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu. Kemudian, senyum lembut muncul di wajahnya yang tenang.
“Kamu peduli sekali pada Rayyan, ya?” tanyanya pelan, tidak dengan nada menggoda, tapi seperti sedang mengamati.
Anis buru-buru mengangguk. “Iya, Bu. Saya cuma... ya, dia temen satu kelas. Tapi dia nggak cerita apa-apa sebelumnya. Jadi saya khawatir.”
Guru itu menghela napas panjang dan menunduk sebentar sebelum menjawab. “Rayyan itu anak yang baik, walaupun dia tidak banyak bicara. Tapi tidak semua hal bisa mudah diceritakan oleh seseorang, apalagi jika menyangkut keluarganya.”
Anis terdiam, merasa ada beban besar dalam kata-kata itu. Bu Rahma melanjutkan, masih dengan suara lembut namun bermakna.
“Kadang, cukup satu orang yang benar-benar peduli, sudah bisa membuat seseorang bertahan lebih lama. Kamu anak yang bijak, Anis. Kalau kamu bisa jadi temannya, tetaplah jadi temannya. Tidak perlu banyak bertanya, cukup hadir.”
Anis mengangguk perlahan, tapi hatinya malah makin tak tenang.
###
Waktu istirahat kedua tiba, dan Anis menuju kantin Bersama Yaya dan Tata, saat suara yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang antrian.
“Air mineral, satu”
Anis berbalik spontan. Dan di sana, berdiri sosok Rayyan, mengenakan jaket yang biasa ia kenakan. Wajahnya sedikit pucat, matanya masih tampak lelah, tapi dia tersenyum. Tipis. Tapi cukup untuk membuat dada Anis terasa lega.
“Rayyan?! Kamu..” ucap Anis, hampir terlonjak.
“Cuma demam, nggak parah,” jawab Rayyan singkat.
Meskipun hatinya ingin menginterogasi lebih jauh, Anis menahan diri. Ia pura-pura cemberut dan mendesis, “Minimal ngabarin lah. Biar yang lain nggak mikir kamu diculik genderuwo.”
Rayyan tersenyum kecil, lalu duduk di meja yang sama dengan Anis dan teman temannya. Suasana di antara mereka hening sejenak, tapi bukan hening yang canggung, lebih seperti orang yang nyaman berada dalam diam. Namun, tidak dengan Yaya dan Tata, keduanya saling melirik seperti berbicara melalui matanya.