Cerita

(6) Pralaya Setalah Cahaya

6 – Malam yang Tidak Memberi Ampun Jonan tidak ikut ambulan. Ia berdiri terpaku sampai sirene itu benar-benar hilang dari penden…

6 – Malam yang Tidak Memberi Ampun

Jonan tidak ikut ambulan.

Ia berdiri terpaku sampai sirene itu benar-benar hilang dari pendengarannya. Baru setelah lapangan kosong, ia berjalan pulang.

Langkahnya ringan. Terlalu ringan untuk seseorang yang baru saja melihat seseorang tertusuk begitu dekat dengannya.

Seragamnya masih kotor. Tangannya masih ada bercak darah.

Sesampainya di rumah, pintu belum sepenuhnya terbuka ketika suara itu sudah menyambutnya.

“Kamu pulang jam segini?!”

Ibu tirinya berdiri di ruang tengah dengan tangan terlipat.

Jonan tidak menjawab. Ia melepas sepatu pelan.

“Kamu pikir uang sekolah itu murah? Bolos seenaknya? Bikin malu keluarga!”

Jonan melewatinya tanpa bicara. Hari ini terlalu penuh untuk menjawab.

“Kamu ngapain lagi di luar?” tanyanya keras.

Jonan ingin bilang bahwa ada orang yang hampir mati karena dirinya, tapi.. sudahlah, ia hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya. Pikirannya.

Jonan tetap berjalan masuk ke kamarnya. Dengan baju dan tubuh yang kotor, ia merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya, dan perlahan terlelap.

Entah sudah berapa lama Jonan terlelap, sampai ia terbangun karena kaget pintu kamarnya dibuka dengan kasar.

Ayahnya melangkah cepat. Tangannya mencengkeram kerah Jonan. Menariknya untuk bangun dari ranjang.

“Kamu makin berani ya sekarang?”, pasti ayahnya sudah menerima aduan dari ibu tirinya.

Dorongan keras membuat Jonan jatuh ke lantai.

Ia tidak melawan. Tidak membela diri. Tidak menangis. Pukulan itu datang seperti biasa. Tanpa ruang untuk penjelasan.

Malam itu, Jonan mengobati lukanya sendiri di kamar. Perutnya kosong. Punggungnya perih. Tapi yang paling sakit bukan itu. Melainkan bayangan Sean yang terkulai di tanah. Ia memeluk lututnya di sudut kamar.

“Bangun ya..” bisiknya lirih pada kegelapan. “Lo nggak boleh mati!.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jonan merasa sedih bukan karena dipukul. Tapi karena diselamatkan.

Pagi berikutnya, tanpa pamit, Jonan pergi ke rumah sakit. Ia berdiri di depan ruang rawat inap dengan napas tidak teratur. Di dalam, ia melihat beberapa siswa sekolahnya yang merupakan anggota OSIS duduk di depan ruangan Sean dirawat.

Wajah mereka tegang.

Begitu Jonan melangkah mendekat, salah satu dari mereka berdiri.

“lo ngapain ke sini?”

“gue mau lihat Kak Sean,” jawab Jonan pelan.

“Setelah bikin dia kayak gini?”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari tamparan. Salah satu dari mereka mendorong bahunya.

“Sean tuh nggak pernah cari masalah! Cuma karena orang kayak lo aja dia sampai kayak gini”

Yang lain ikut bersuara.

“lo nggak bisa ya jauh-jauh dari dia?”
“Dasar pembawa sial.”

Jonan menunduk. Ia tidak melawan. Karena sebagian dari dirinya setuju.

“gue ke sini buat minta maaf,” katanya lirih. “gue mau ketemu orang tua Kak Sean.”

“Sean sebentar lagi dibawa ke ruang tindakan lagi,” jawab yang lain ketus. “Orang tuanya lagi ngurus administrasi. Mereka nggak bakal sempat dengar permintaan maaf lo.”

Jonan mengangguk pelan.

“oke, aku balik lagi nanti.”

Ia pergi sebelum air matanya jatuh di depan mereka.

Sore harinya, Jonan sungguh kembali. Langkahnya lebih pelan. Kali ini lorong lebih sepi. Di dalam kamar rawat, hanya ada dua orang.

Ayah dan ibu Sean.

Sean terbaring pucat, selang infus terpasang, perban membalut punggungnya. Jonan berdiri di ambang pintu.

Ragu.

Tapi ia melangkah masuk. Sepatu ketsnya berbunyi pelan di lantai. Kedua orang tua Sean menoleh.

Sebelum mereka bertanya, Jonan sudah lebih dulu berlutut.

“Saya minta maaf, Bu.. Pak..” Suaranya gemetar. “Karena saya.. Kak Sean jadi seperti ini.”

Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

“Biaya rumah sakitnya.. saya bakal tanggung.”

Ruangan hening.

Ibu Sean berdiri perlahan. Jonan menunduk lebih dalam, siap dimarahi. Tapi yang ia rasakan justru tangan hangat menyentuh bahunya.

“Bangun, Nak.”

Jonan menggeleng. “Ini salah saya..”

Tangan itu menariknya berdiri. Dan tanpa diduga, ibu Sean memeluknya. Erat.

“Kamu bukan penyebabnya.”

Jonan membeku.

“Kamu justru penyelamatnya.”

Jonan mengangkat wajahnya perlahan. Ayah Sean menatapnya lembut.

“Tujuh tahun lalu, di depan rumah sakit ini, ada anak kecil yang menarik Sean dari jalan raya.”

Jantung Jonan berdetak keras.

“Sean nggak pernah lupa,” lanjutnya. “Dia bilang nama anak itu Jonan.”

Air mata Jonan kembali jatuh. Ia tidak pernah menyangka peristiwa kecil yang bahkan hampir ia lupa itu masih diingat.

“Sejak ketemu kamu lagi di sekolah,” kata ibu Sean pelan, “dia cerita semuanya.”

Jonan menoleh ke arah Sean yang terbaring lemah.

“Dia bilang, kali ini giliran dia yang jagain kamu.”

Tangis Jonan pecah pelan. Ada orang dewasa yang tidak menyalahkannya. Tidak memukulnya. Tidak melihatnya sebagai masalah.

“Kamu nggak perlu tanggung biaya apa pun,” kata ayah Sean. “Yang penting sekarang, kamu juga jaga diri kamu.”

Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Jonan, itu seperti sesuatu yang belum pernah ia dengar seumur hidupnya. Jaga diri kamu.

Bukan salah kamu. Bukan kamu bikin malu.

Jonan mendekat ke ranjang. Tangannya gemetar saat menyentuh ujung selimut.

“Cepet bangun ya..” bisiknya. “Lo belum boleh pergi.”

Shofia Faradita
Tentang penulis

Shofia Faradita

Aku Shofia, seorang mahasiswa akuntansi yang memiliki minat dalam menulis sesuatu serta menyukai perpaduan kreativitas dan analisis. Antusias terhadap tantangan baru dan terus bertumbuh di dunia profesional.

Lihat Semua Tulisan →

Mari Mengenal Lewat Tulisan Sebuah ruang kecil yang berisi kata, cerita, dan kreativitas.

Terima Kasih telah mengunjungi website pribadiku. Semoga setiap tulisan yang aku bagikan dapat memberikan makna dan menemanimu

Mulai Membaca