Cerita

5 Shankara

Hari-hari berlalu dengan cepat. Anis kembali disibukkan dengan tugas sebagai sekretaris kelas, menyalin pengumuman, mendata siswa, dan sesek…

Hari-hari berlalu dengan cepat. Anis kembali disibukkan dengan tugas sebagai sekretaris kelas, menyalin pengumuman, mendata siswa, dan sesekali mencatat PR yang entah dari mana datangnya. Tapi sejak kejadian di taman belakang itu, pikirannya sering terbang ke sosok Rayyan. Bukan karena suka, tapi lebih karena penasaran. Ada yang berbeda dari Rayyan, dan Anis ingin tahu kenapa.

Sejak saat itu, Annis merasa dia jadi cukup sangat berani mengobrol dengan Rayyan.

Di kelas, Rayyan tetap pendiam. Tapi kalau Anis mengajaknya bicara, dia tidak lagi buang muka atau berpura-pura tidur. Kadang balas dengan anggukan, kadang cuma melirik. Buat Anis, itu kemajuan besar. Anis juga sering diam-diam memperhatikan Rayyan. Kalau Rayyan ke perpustakaan, dia ikutan. Kalau Rayyan nggak bawa buku, Anis pura-pura lupa bawa juga, biar bisa nebeng tugas bareng.

“Lo ngapain sih, Nis? Rayyan itu bukan cowok seru. Kayak... kosong,” celetuk Yaya saat mereka istirahat di kantin.

Anis cuma senyum, lalu melirik ke arah pojokan kantin, tempat Rayyan duduk sendiri sambil minum teh botolan.

“Kadang yang kosong itu justru pengen diisi,” jawab Anis ringan.

Yaya dan Tata saling pandang.

“Jangan bilang lo suka ya,” bisik Tata pelan.

“Bukan suka. Penasaran,” jawab Anis sambil mengunyah gorengannya.

Namun, rasa penasaran itu berubah jadi kekhawatiran ketika suatu hari Rayyan tidak masuk sekolah. Lalu besoknya, dan besoknya lagi. Tiga hari berturut-turut tanpa kabar. Gak ada satu pun yang tahu alasannya, bahkan Bu Rahma pun hanya bilang Rayyan sedang izin karena “urusan keluarga”.

Malamnya, Anis gelisah. Di kamarnya yang remang, ia membuka ponsel dan mulai mengetik:

“Assalamu’alaikum. Rayyan, kamu baik-baik aja? Kok nggak masuk ya? Kalau butuh bantuan atau apa, bilang ya.”

Tapi setelah ditulis, ia hanya menatap layar. Lama. Lalu... tidak dikirim. Chat itu hanya tersimpan di draft.

###

Dan hari keempat tanpa kehadiran Rayyan terasa lebih sunyi daripada biasanya. Meski anak itu tak pernah cerewet atau menonjol di kelas, keberadaannya ternyata memberi warna yang tidak disadari oleh banyak orang, terutama Anis.

“Anis, lo nggak apa-apa?” suara Tata menyadarkannya dari lamunan. Anis menoleh cepat dan mengangguk kecil.

“Nggak apa-apa, Ta.”

Namun dalam hati, semuanya justru tidak baik-baik saja.

Hari itu terasa lambat. Bahkan PR Matematika dari Pak Arif yang biasanya bisa membunuh rasa bosan, justru makin membuat Anis kehilangan fokus. Bolpennya berkali-kali menorehkan angka salah. Pandangannya kosong. Di luar, hujan turun pelan. Langit kelabu, sama seperti isi hati Anis hari itu.

Saat istirahat, Yaya dan Tata datang membawa makanan ringan, mencoba mencairkan suasana.

“Ini udah hari keempat ya, dia nggak masuk?” tanya Yaya sambil duduk di sebelah Anis.

Anis mengangguk pelan.

“Gue tadi iseng nanya ke anak kelas sebelah yang katanya rumahnya deket sama rumah Rayyan,” ujar Yaya. “Katanya, rumahnya sering ribut malam-malam. Udah lama. Tetangganya juga nggak banyak yang berani ngomong.”

Anis mengernyit. “Ribut kenapa?”

“Gak tau juga. Tapi tetangga sebelah denger suara orang tua marah-marah, lempar-lempar barang, dan… teriakan.”

Hati Anis mencelos. Teringat lengan Rayyan yang memar waktu itu. Dadanya sesak. Tiba-tiba draft pesan yang belum pernah ia kirim kemarin malam terasa menyesakkan di dalam ponsel.

Malamnya, di kamar yang sama, di bawah cahaya temaram, Anis kembali membuka ponselnya. Draft pesan kemarin masih ada.

Kali ini, tanpa ragu, ia tekan tombol kirim.

Shofia Faradita
Tentang penulis

Shofia Faradita

Aku Shofia, seorang mahasiswa akuntansi yang memiliki minat dalam menulis sesuatu serta menyukai perpaduan kreativitas dan analisis. Antusias terhadap tantangan baru dan terus bertumbuh di dunia profesional.

Lihat Semua Tulisan →

Mari Mengenal Lewat Tulisan Sebuah ruang kecil yang berisi kata, cerita, dan kreativitas.

Terima Kasih telah mengunjungi website pribadiku. Semoga setiap tulisan yang aku bagikan dapat memberikan makna dan menemanimu

Mulai Membaca