5 – Detik yang Terlambat
Pesan dan panggilan tak terjawab itu datang saat jam pelajaran kedua hampir selesai.
“Nan, ke lapangan belakang pasar sekarang. Preman itu dateng lagi. Riko hampir dipukul.”
“Gue ke sana,” jawabnya singkat.
Ia keluar kelas dengan alasan ke toilet, lalu memanjat dinding belakang sekolah seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya. Ia tidak tahu bahwa kali ini seseorang melihatnya.
Lapangan belakang pasar sudah dipenuhi teriakan ketika Jonan tiba. Andik dan dua lainnya berdiri berhadapan dengan tiga preman bertubuh besar.
“Mana yang kemarin berani lawan gue?!” bentak salah satu dari mereka.
“Itu cuma salah paham, Bang,” Ipal mencoba menenangkan.
“Diam lo!”
Jonan melangkah mendekat. Bukan untuk pamer keberanian, tapi karena ia tahu kalau tidak ada yang berdiri di tengah, salah satu dari mereka bisa babak belur.
“Bang, udah. Kami nggak cari ribut,” katanya.
Preman itu meliriknya dari atas sampai bawah.
“Kecil begini sok jadi penengah?”
Tawa kasar terdengar. Salah satu dari mereka mendorong bahu Jonan keras. Ia terhuyung, tapi tidak jatuh. Refleks, Damar maju. Dorong-mendorong terjadi. Lalu pukulan pertama melayang.
Kacau. Debu beterbangan.
Jonan tidak menyerang lebih dulu. Ia hanya menahan, menghindar, melindungi wajahnya saat ada tangan besar mencoba mencengkeram rambutnya. Seseorang terjatuh. Seseorang berteriak.
Lalu suasana berubah.
Salah satu preman berdiri dengan napas berat. Dan di tangannya ada pisau. Semua mundur satu langkah.
“Sekarang masih mau gaya?” katanya dingin.
Jonan berdiri paling dekat tanpa sengaja. Ia tidak sempat mundur. Pisau itu terangkat. Waktu melambat.
Damar berteriak, “Jo, mundur!”
Jonan hendak melangkah, tapi tubuhnya seperti membeku sepersekian detik. Dan dalam detik itulah seseorang menerobos dari samping.
Sean.
Ia menarik Jonan ke dalam pelukannya. Tubuhnya membalik posisi. Dan mata pisau itu tidak jadi menancap ke perut Jonan. Tapi ke punggung Sean.
Suara tusukan itu pelan. Hampir tidak terdengar.
Sean terhuyung.
Jonan ikut jatuh bersamanya. Debu menempel di wajah mereka. Untuk sesaat, semua orang diam.
Preman itu tampak kaget melihat darah mulai merembes dari seragam putih sekolah.
Lalu mereka lari.
Teman-teman Jonan mundur panik. Tapi Jonan tetap di sana.
Ia berlutut. Tangannya gemetar saat membalikkan tubuh Sean perlahan.
“Kak? Kak Sean”
Darah mengalir melalui sela jarinya ketika ia menekan luka di punggung Sean.
“Kenapa lo ke sini??” suaranya pecah.
Sean berusaha membuka mata.
“Aku bilang.. aku nggak takut..” bisiknya lemah.
Jonan menggeleng panik. “Lo bego harusnya lo nggak ikut campur”
Sean mencoba tersenyum tipis.
“Kalau kamu.. luka.. aku lebih bego lagi..”
Napasnya mulai berat.
“Jangan tidur” Jonan hampir berteriak. “Jangan nutup mata lo!”
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Untuk pertama kalinya, Jonan benar-benar takut. Bukan takut dipukul. Bukan takut dimaki. Tapi takut kehilangan.
Sirene ambulans terdengar dari kejauhan. Sean digotong ke tandu. Jonan berdiri dengan tangan penuh darah. Dan ketika pintu ambulans hampir tertutup, Sean membuka mata sebentar.
Menatapnya.
Seperti memastikan satu hal. Lalu pintu itu tertutup.
Sirene menjauh.
Dan Jonan berdiri di tengah lapangan