Tak lama kemudian, Bu Rahma masuk ke dalam kelas.
“Bismillah, Assalamu’alaikum anak-anak,” sapanya dengan lembut. Serempak, seisi kelas menjawab salamnya. “Mulai hari ini, saya akan menjadi wali kelas kalian.”
Sontak seluruh kelas bersorak gembira, begitu juga Anis.
Siapa yang tidak senang? Bu Rahma adalah salah satu guru paling disukai. Selain tutur katanya yang halus karena usianya yang sudah cukup tua, beliau juga dikenal murah tugas dan jarang memberi hafalan seperti guru agama lainnya. Pokoknya favorit semua murid!
“Sebelumnya, apa kalian sudah menentukan struktur kepengurusan kelas?” tanyanya.
“Belummm,” jawab murid-murid kompak.
“Kalau begitu, mari kita tentukan siapa saja yang cocok jadi pengurus inti kelas. Hmm… bagaimana kalau Rivan jadi ketua kelas? Kamu kan pernah jadi ketua kelas 11 IPA-1, ya?”
Sekelas langsung menoleh ke arah seorang siswa berambut keriting yang duduk di bangku seberang meja guru.
Tiba-tiba, seorang siswa yang duduk di dekat bangku Anis mengangkat tangan.
“Bu, bukannya lebih baik kalau dipilih lewat voting?”
Beberapa siswa, termasuk Anis, mengangguk setuju.
Setelah diskusi yang cukup panjang dan penuh tawar-menawar, bel istirahat pun berbunyi, menandai berakhirnya perdebatan. Dan hasilnya: Rivan resmi menjadi ketua kelas, dan seperti biasa, Anis kembali terpilih sebagai sekretaris 1. Dari SD, Anis memang langganan jadi sekretaris, entah itu sekretaris 1 atau 2, jadi dia tak terlalu mempersoalkan.
###
Kini, Anis bersama dua sahabatnya sudah berada di kantin.
“Eh, kalian mau pesen apa? Biar aku aja yang antriin,” tawar Anis.
“Dibayarin juga?” yaya langsung nyelutuk.
“Ya enggaklah, enak aja!”
“Ah, pelit amat. Yaudah, aku bakso sama teh anget.”
Anis mengangguk, lalu bertanya pada Tata yang dari tadi sibuk menatap layar ponsel.
“Kamu Ta, mau pesen apa?”
“Ini, kayak biasa.” Tata menyodorkan uang tanpa mengalihkan pandangan dari HP-nya.
“Lah, kayak biasa itu maksudnya gimana?” Anis mulai bingung.
“Masa kamu lupa sih?”
“Bukan lupa, cuma kamu tuh pesennya beda-beda tiap hari,” jawab Anis kesal.
“Yaudah, bakso sama es teh aja.”
“Nah gitu dong.”
“Duh, kalian ribut mulu. Yang mau antri cepetan sana. Yang satu nyebelin dari pagi,” gerutu Yaya.
Tanpa banyak komentar lagi, Anis langsung melangkah ke gerobak bakso dan kembali membawa tiga mangkuk bakso, teh anget, es teh, dan sebotol air mineral.
Saat mereka sedang menikmati makanan masing-masing, mata Anis menangkap sosok Rayyan masuk ke kantin. Ia terdiam, memperhatikan. Ini pertama kalinya Anis melihat Rayyan ke kantin, atau mungkin dia selama ini nggak pernah sadar?
Rayyan hanya membeli sebotol air mineral dingin, terlihat berembun diluar botolnya, lalu melangkah pergi.
“Hah? Cuma beli air doang? Jam segini masa nggak laper. Beliin roti aja kali ya?” batin Anis.
Tanpa pikir panjang, Anis langsung ke warung yang tadi didatangi Rayyan dan membeli roti. Kedua sahabatnya hanya bisa menatap heran.
“Eh, kalian nanti langsung ke kelas aja ya,” ujar Anis sambil membawa sisa air minumnya. Ia langsung melesat keluar dari kantin sebelum ditanya lebih lanjut oleh Yaya.
Anis berjalan sambil celingukan mencari Rayyan. Tadi sempat terlihat, tapi gara-gara adik kelas nanya ruang laboratorium, ia kehilangan jejak.
“Tapi masa ke taman sih?” gumam Anis.
Akhirnya, dia memutuskan mencari ke taman belakang sekolah, tempat yang katanya angker, tapi Anis nekat. Siapa tahu Rayyan memang di sana. Lagipula, Rayyan kan pintar, anak pintar biasanya nggak takut gituan.
Begitu sampai, ternyata benar. Rayyan sedang duduk sendiri dan melamun.
Tak lama, Rayyan membuka jaketnya, dan reflek Anis berteriak pelan. Tangannya penuh memar kebiruan. Rayyan kaget dan buru-buru menutup jaketnya kembali. Karena sudah ketahuan, Anis mendekat dan duduk di sampingnya.
“Nih,” ucapnya sambil menyodorkan roti, tapi Rayyan tidak menggubrisnya.
Kesal, Anis langsung menarik tangan Rayyan dan meletakkan roti di sana. Kali ini Rayyan menerima dan mulai membuka bungkus rotinya. Huh, kenapa tadi sok jual mahal sih?
“Kenapa tangan kamu bisa gitu?” tanya Anis.
Rayyan diam saja.
“Abis tawuran ya?” sindir Anis.
“Makasih,” kata Rayyan tiba-tiba, lalu berdiri hendak pergi.
Anis buru-buru menahan lengannya. Ia sempat melihat ekspresi meringis dari Rayyan lalu melepaskannya.
“Iya, sama-sama. Tapi duduk dulu,” ucap Anis. Untung Rayyan menuruti.
“Serius, kamu kenapa?” tanya Anis lagi.
“Bukan urusan lo” jawab Rayyan ketus.
“Kalau bukan tawuran, terus kenapa? Itu lukanya keliatan parah tahu.”
“Gw bilang bukan urusan lo.”
Anis yang tak puas dengan jawaban itu langsung mengambil botol air mineral dari tangan Rayyan, membuka jaketnya, lalu mulai menempelkan botol dingin itu ke memarnya dengan perlahan. Dia ngilu melihat luka-luka itu.
Rayyan terdiam, memperhatikan Anis lekat-lekat.
“Hei!” tegur Anis sambil melambaikan tangan di depan wajah Rayyan, yang langsung gugup dan mengalihkan pandangan.
“Ayo, kita ke kelas. Bentar lagi bel. Itu nanti dikompres lagi ya di rumah. Kalau takut ketahuan orang tua, ke UKS aja. Kalau kamu takut sendirian, suruh temen nemenin. Kalau mereka nggak mau, aku aja yang temenin, oke?”
Rayyan hanya menatapnya.
“Aku nggak punya temen,” ucapnya cepat.
“Hah? Masa sih? Boong, ah. Tawuran kan biasanya rame-rame. Tapi yaudah, kalau nggak punya temen, temenan sama aku aja. Tenang, aku nggak bakal ngajak kamu tawuran, kok.”
Rayyan hanya memutarkan bola matanya lalu pergi.
“Eh! Tunggu! Bareng dong, disini tuh serem” teriak Anis sambil berlari menyusul.