4 – Rumah yang Tidak Pernah Tenang
Sore itu Jonan pulang lebih cepat dari biasanya. Langit masih terang ketika ia membuka pintu rumah. Ia bahkan belum sempat melepas sepatu.
PLAK.
Tamparan itu datang begitu saja. Kepalanya menoleh ke samping. Dunia seperti bergetar sesaat.
“Kamu sengaja ya nggak nyetrika seragam adik kamu?!” bentak ibu tirinya.
Jonan memegang pipinya yang panas. “Aku lupa, Bu. Tadi pagi aku..”
“Kamu lupa? LUPA?!” Suaranya meninggi.
“Dia jadi telat sekolah gara-gara kamu! Kamu itu iri ya sama adik kamu?!”
“Aku nggak..”
“Mas!” teriak ibu tirinya ketika pintu depan terdengar terbuka. “Lihat nih anak kamu! Makin hari makin nggak bisa diatur!”
Ayahnya masuk dengan wajah lelah sepulang kerja, keringat masih menempel di pelipisnya.
“Ada apa lagi?” tanyanya berat.
Ibu tirinya lebih dulu menjawab, suaranya bergetar seperti korban.
“Aku cuma minta dia bantuin sedikit aja. Tapi dia selalu jawabin aku. Sekarang adiknya jadi malu di sekolah.”
Jonan menoleh cepat. “Aku cuma mau jelasin..”
Tangan ayahnya mencengkeram kerah belakang bajunya.
“Kalau orang tua ngomong, jangan nyela!” bentaknya.
Tarikan itu keras sampai Jonan kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk. Dadanya sesak.
Ia ingin menjelaskan. Ingin bilang bahwa ia benar-benar lupa karena semalam ia pulang dengan kepala pusing dan tangan masih gemetar setelah tawuran kecil.
Tapi ia tidak diberi waktu untuk menjelaskan.
Sebelum pukulan berikutnya mendarat, Jonan sudah lebih dulu berdiri dan berlari keluar rumah.
Tidak ada yang menahannya. Ia berjalan tanpa arah. Langkahnya cepat, napasnya berat, pipinya masih panas. Ia tidak ingin kembali malam itu. Ia tidak ingin mendengar suara itu lagi.
Markas kecil dekat pasar jadi satu-satunya tempat yang terpikir.
Beberapa temannya sedang duduk melingkar.
“Jo? Tumben,” kata Andik.
Jonan duduk tanpa menjawab. Riko memperhatikan wajahnya. “Di rumah lagi?”
Jonan hanya mengangguk kecil. Tak ada yang bertanya lebih jauh.
Jam menunjukkan pukul delapan ketika Jonan akhirnya berdiri lagi. Ia tidak bisa selamanya di sana. Tapi ia juga belum siap pulang.
Kakinya membawanya ke taman kecil dekat rumah. Bangku kayu itu kosong. Lampu taman menyala temaram. Jonan duduk, menatap tanah.
Ia tidak menangis. Ia hanya lelah.
Lelah jadi salah. Lelah jadi penyebab. Lelah jadi anak yang selalu dianggap durhaka.
“Jonan?”
Suara itu membuat bahunya menegang. Ia menoleh.
Sean berdiri beberapa langkah darinya, helm tergantung di tangan. Ia terlihat terkejut sekaligus khawatir.
“Kamu ngapain di sini malam-malam?” tanyanya pelan.
Jonan mengangkat bahu. “Pengen aja.”
Sean melirik seragamnya. “Belum ganti.”
“Belum sempat.”
Sean tidak langsung duduk. Ia berdiri beberapa detik, seperti memastikan kehadirannya tidak mengganggu.
Lalu ia duduk di ujung bangku, memberi jarak.
Hening.
Angin malam meniup pelan. Sean melirik pipi Jonan yang sedikit memerah.
“Ini bukan luka tawuran,” katanya pelan.
Jonan menegang.
“Lo detektif sekarang?”
Sean menggeleng. “Aku cuma bisa bedain.”
Jonan menatap lurus ke depan. “Semua orang mikir ini dari tawuran.”
“Dan kamu biarin.”
“Lebih gampang.”
Sean tidak menjawab.
Beberapa menit berlalu dalam diam yang anehnya tidak canggung. Sean membuka tasnya. Mengeluarkan tumblernya yang berisi air minum dan 2 bungkus chiki yang baru ia beli. Ia meletakkannya di antara mereka.
Jonan melirik. “Gue nggak minta.”
“Aku tahu.”
“Aku nggak lapar.”
Sean hanya membuka tutup botolnya dan menyerahkannya. “Minum aja dulu.”
Jonan menatap botol itu lama. Lalu mengambilnya. Tangannya sedikit gemetar. Sean pura-pura tidak melihat.
Setelah beberapa saat. Jonan menoleh kea rah Sean
“Lo nggak takut orang rumah lo nyariin?”
“Aku bilang ke Mama mau cari jajan buat nemenin nugas.”
Jonan reflek melihat 2 bungkus chiki di antara mereka.
Sean menatapnya.
“Aku bisa antar kamu pulang.”
Jonan langsung menggeleng. “Nggak usah.”
“Kenapa?”
Jonan berdiri.
“Lo nggak bakal ngerti.”
“Jelasin.”
Jonan menatapnya lama.
Kalimat-kalimat itu hampir keluar. Tapi ia menelannya kembali.
“Udah malem,” katanya singkat.
Sean ikut berdiri.
“Jonan.”
Ia berhenti melangkah.
“Aku nggak tahu apa yang kamu hadapi,” lanjut Sean pelan, “tapi kamu nggak sendirian.”
Kalimat itu membuat sesuatu di dada Jonan bergetar. Ia tidak terbiasa mendengar itu. Ia tidak tahu harus percaya atau tidak.
Jonan tidak menjawab lagi.
Ia berjalan pulang. Dan untuk pertama kalinya, langkah menuju rumah terasa sedikit tidak terlalu sunyi. Di kamar yang gelap malam itu, Jonan menatap langit-langit. Pipinya masih perih. Tapi yang paling mengganggu justru bukan rasa sakitnya. Melainkan suara lembut di taman tadi.
Kamu nggak sendirian.
Ia memejamkan mata. Ia berharap kalimat itu benar.