Adzan Magrib membuyarkan lamunan Anis. Ia segera bangkit dari duduknya, mematikan televisi yang sejak tadi hanya menyala tanpa ia perhatikan.
Ia berjalan ke kamar, mengambil wudhu di kamar mandi dalam, lalu mengenakan mukenah dan menunaikan salat Magrib. Seperti biasa, selepas salat, ia mengaji. Tidak ada tugas sekolah hari ini, jadi waktunya bisa ia manfaatkan untuk tilawah lebih lama.
Adzan Isya terdengar bersahutan, mengakhiri sesi ngajinya. Anis salat kembali, lalu beranjak ke dapur. Ia memasak makan malam sederhana, lebih memilih masakan sendiri daripada membeli makanan instan atau jajan di luar. Selain hemat, juga lebih sehat.
Selesai makan, ia kembali ke kamar. Tidak ada hal penting yang ingin dilakukan, jadi ia hanya rebahan. Anis bukan tipe yang betah berlama-lama menatap layar ponsel. Menurutnya, terlalu banyak waktu terbuang hanya untuk scroll media sosial. Ponsel hanya ia gunakan untuk komunikasi seperlunya—telepon, pesan, dan itu pun hanya lewat WhatsApp dan Messenger. Tak seperti kebanyakan anak seusianya, apalagi para gadis yang hampir semuanya punya media sosial beragam.
Masih pukul setengah delapan. Karena tak betah di kamar, Anis memutuskan untuk jalan-jalan ke taman kota. Lokasi rumahnya cukup strategis—dekat musala, agak jauh dari masjid, tapi dikelilingi tetangga yang ramah. Di depan kompleks, ada taman kota dan stadion, serta berderet warung dan supermarket. Bahkan pasar pun tak terlalu jauh.
Ia mengganti celana pendeknya dengan celana panjang, mengenakan jaket tipis, lalu keluar rumah. Baru beberapa langkah, ia melewati rumah Bu Miran.
"Mbak Anis, mau ke mana malam-malam?" sapa Bu Miran yang sedang duduk di teras bersama putranya, Zaqi.
Anis segera menghampiri. Ia merasa tak sopan menjawab dari kejauhan. "Mau cari angin aja, Bu," jawabnya sopan.
"Nyari angin kok malam-malam, dingin. Sini aja, tadi si Hisna habis bikin donat, cobain," ajak Bu Miran ramah. Anis pun mengangguk. Lumayan, pikirnya.
Bu Miran memiliki dua anak. Hisna, yang sekarang kelas 2 SMP, dan Zaqi, anak bungsu yang baru masuk SD.
Anis mengobrol sejenak, menikmati donat buatan Hisna. Setelahnya, ia pamit pulang.
###
Pagi harinya, setelah salat Subuh, Anis tak kembali tidur. Ia khawatir bangun kesiangan. Kini ia tengah menata dua kotak makan berisi masakan yang telah ia siapkan dan santap lebih dulu. Setelah semuanya siap, ia mengenakan sepatu dan bersiap ke sekolah.
Tapi sebelum menuju halte, ia mampir sebentar ke rumah Bu Miran.
“Assalamu’alaikum, permisi,” sapa Anis dari depan.
“Sebentar!” terdengar suara dari dalam.
Tak lama, Hisna muncul dengan seragam putih birunya. “Mbak Anis? Ada apa?”
Anis tersenyum, lalu mengeluarkan satu kotak makan dari tasnya. “Ini, aku sengaja masak lebih tadi pagi.”
“Wah, makasih banyak, Mbak!” ucap Hisna senang. Setelah berpamitan, Anis melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
Sesampainya di gerbang sekolah, ia mengambil satu lagi kotak makan dari dalam tas dan berjalan menuju pos satpam.
“Assalamu’alaikum, Pak. Ini... maaf ya kemarin aku teriak-teriak,” sapanya sambil menyerahkan kotak makan.
“Wa’alaikumsalam, Mbak Anis. Wah, terima kasih ya, yang kemarin itu nggakpapa” jawab Pak Yanto sambil tersenyum. “Masak apa hari ini?”
“Cuma udang asam manis aja kok, Pak. Saya ke kelas dulu ya,” ujarnya sambil pamit.
Anis berjalan santai ke kelas. Di tengah perjalanan, ia melihat Rayyan berjalan sendirian. Ia berlari kecil menghampiri.
“Pagi, Yan!” sapanya ceria. Tapi Rayyan tidak menoleh, tak menggubris sama sekali. Anis hanya menghela napas, tetap berjalan di sampingnya.
Sampai di depan kelas, Anis masuk lebih dulu. Suasana kelas sudah cukup ramai. Jam hampir menunjukkan pukul tujuh. Ia langsung menghampiri bangku Tata.
“PAGI, Ta!” sapa Anis keras-keras, sengaja agar Tata terkejut. Dan benar saja, Tata langsung terbangun dari tidurnya di lipatan tangan.
“Ish, apaan sih! Kaget tau!” gerutu Tata. Anis hanya terkekeh geli.
“Disuruh Mama datang pagi, katanya biar kebiasaan,” tambah Tata malas.
“Wah, bener tuh Mama kamu. Biar nggak telat terus kayak dulu,” sahut Anis.
“Lo nyindir, ya?” balas Tata dengan cemberut.
“Enggak, aku malah muji Mamamu,” elak Anis sambil nyengir.
“Jadi pengen tinggal sendiri kayak lo,” gumam Tata.
“Jangan. Nggak enak, benerr deh” jawab Anis cepat. Ucapannya berbarengan dengan kedatangan Yaya.
“Duh, gue kira telat tadi. Kelas ini jauh banget sih, capek gue. Harusnya dibuatin lift!” keluh Yaya sambil menarik lengan Anis. Bisa dibilang dia ngusir Anis dari bangku Tata.
“Dateng-dateng rusuh,” celetuk Tata.
“Apaan sih, lo sensian banget,” sahut Yaya, mulai tersulut.
“Udah, udah...” ujar Anis, menengahi.
Memang seperti itulah persahabatan mereka. Dua bertengkar, satu jadi penengah. Orang tua bilang, teman jangan ganjil jumlahnya. Kenapa? Mungkin supaya nggak ada yang tersisih sendiri saat yang lain berpasangan.
Bel masuk berbunyi. Anis berniat hanya menaruh tas di bangkunya dan kembali ngobrol, tapi waktu sudah tak mengizinkan. Dengan berat hati, ia duduk di tempatnya.