3 – Yang tidak pernah pergi
Lapangan sekolah masih riuh oleh suara siswa baru yang belum terbiasa disiplin.
Sebagai ketua OSIS, Sean berdiri dengan clipboard di tangan. Wajahnya tenang seperti biasa. Tegas, tapi tidak galak.
Namun sejak melihat tanda lahir itu, konsentrasinya tidak pernah benar-benar utuh.
Jonanda Anggita. Ia mengulang nama itu dalam hati.
Jonan berdiri di barisan paling belakang. Bahunya tegak, wajahnya datar, seolah dunia tidak punya urusan dengannya dan ia pun tidak berniat punya urusan dengan dunia.
Sean berjalan menyusuri barisan, pura-pura mengecek atribut.
“Topi rapi.”
“Dasi lurus.”
“Sepatu dibersihkan lagi besok.”
Langkahnya berhenti di depan Jonan.
Ia berdiri lebih dekat sekarang.
Luka kecil di sudut bibir. Memar samar di pipi kiri. Dan tatapan yang tidak menunduk meski sedang diawasi.
“Nama?” tanyanya formal, seperti belum tahu.
“Jonanda Anggita.”
“Panggilan?”
“Jonan.”
Nada suaranya datar. Tidak takut. Tidak hormat berlebihan. Tidak juga menantang. Hanya… kosong.
Sean mengangguk pelan.
“Kalau ada apa-apa selama MPLS, lapor ke OSIS.”
Jonan tidak menjawab. Tatapannya hanya bertahan satu detik lebih lama dari seharusnya, lalu berpaling. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, Sean merasa sesuatu yang aneh, lega dan khawatir dalam waktu bersamaan.
Hari-hari setelahnya, Sean mulai lebih sering berada “tidak sengaja” di sekitar Jonan.
Di kantin. Di depan kelas X IPS 2. Di UKS.
Ia tidak mendekat terlalu terang-terangan. Ia tahu kalau ia terlalu cepat, Jonan akan mundur. Dan benar saja.
Suatu siang, saat Jonan duduk sendirian di bangku kantin dengan es teh yang hampir tidak disentuh, Sean duduk di depannya.
Jonan menghela napas pelan. “Kenapa sih?”
Sean tersenyum tipis. “Kenapa apa?”
“Kenapa dari kemarin lo ada terus di sekitar gue?”
“Sekolah ini nggak cuma punya kamu.”
Jonan mendengus kecil. “Banyak tempat kosong buat duduk.”
Sean mengedarkan pandanganya ke seluruh area kantin dan kembali ke Jonan di depannya. “Tapi yang ini juga kosong.” Ia menunjuk bangku yang didudukinya
Jonan menatapnya beberapa detik. Mencoba membaca sesuatu di wajah laki-laki itu.
Tidak ada ejekan. Tidak ada rasa jijik. Tidak ada takut. Itu justru membuatnya tidak nyaman.
“Lo tau kan,” Jonan berkata pelan, “orang-orang nggak suka kalau lo deket gue.”
Sean bersandar santai. “Kenapa?”
“Karena gue pembuat masalah.”
Sean tidak membantah. Ia hanya menatap luka di tangan Jonan yang belum sepenuhnya sembuh.
“Itu hasil tawuran?” tanyanya pelan.
Jonan refleks menarik tangannya. “Bukan urusan lo.”
Sean mengangguk lagi. Ia tidak memaksa.
Beberapa hari kemudian, Jonan kembali ke kelas dengan luka baru di pelipisnya.
Teman-temannya berbisik lagi.
“Gila, makin parah.”
“Kayaknya dia yang mulai duluan deh.”
Di tengah jam pelajaran, seorang anggota OSIS muncul di pintu kelas.
“Jonanda Anggita dipanggil ke UKS.”
Satu kelas menoleh.
Jonan mengangkat alis. “Gue nggak sakit.”
“Perintah ketua OSIS.”
Jonan langsung tahu siapa.
Ia berjalan ke UKS dengan langkah malas.
Begitu pintu dibuka, Sean sudah duduk di sana dengan kotak P3K di meja.
“Duduk.”
Jonan tertawa kecil tanpa humor. “Lo pikir gue anak kecil?”
“Duduk, Jonan.”
Nada suara itu berubah sedikit. Lebih tegas. Entah kenapa, Jonan menurut.
Sean berdiri mendekat. Tangannya hati-hati saat membersihkan luka di pelipis Jonan dengan kapas beralkohol. Perihnya membuat Jonan meringis.
“Tahan,” gumam Sean pelan.
Keheningan terasa berbeda di ruangan kecil itu.
“Ada yang mukul lo pakai cincin?” tanya Sean pelan melihat bentuk lukanya.
Jonan menegang sepersekian detik.
“Lo kebanyakan nanya.” Sean berhenti sejenak.
“Aku cuma nggak suka lihat kamu luka.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa sadar. Tanpa perhitungan.
Jonan menatapnya tajam.
“Kenapa?”
Sean terdiam.
Karena aku berutang nyawa padamu. Karena aku nggak pernah berhenti nyari kamu. Karena aku tahu kamu pernah jadi cahaya. Tapi semua itu tidak ia ucapkan.
Sebaliknya, ia menjawab dengan suara rendah dan jujur.
“Karena aku suka kamu.”
Ruangan terasa hening. Jonan tertawa kecil, kali ini lebih pahit.
“Lo salah pilih orang, Kak.”
“Aku nggak pernah salah pilih.”
“Banyak cewek yang mau sama lo. Ketua OSIS, siswa kelas unggulan, dan lo cakep” Jonan berdiri. “Pilih aja salah satu dari mereka.”
Sean ikut berdiri. Sedikit tersipu tapi tatapannya tidak goyah.
“tapi yang aku suka bukan mereka.”
Jonan menahan napas. Untuk sesaat, dinding yang ia bangun terasa retak kecil. Dan itu membuatnya takut.
“Jangan deketin gue,” katanya pelan. “Lo bakal kena masalah.”
Sean tersenyum tipis.
“Aku nggak takut.”
Jonan tidak menjawab lagi. Ia pergi.
Tapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, langkahnya terasa sedikit lebih berat, karena ada seseorang yang memilih tinggal.
Sore itu, di balik kelas kosong, Jonan bersandar pada tembok. Tangannya menyentuh pelipis yang sudah ditempeli plester.
Ia membenci kenyataan bahwa sentuhan Sean terasa lembut, suara Sean tidak terdengar palsu, untuk satu detik, ia ingin percaya. Tapi Jonan tidak pernah membiarkan dirinya percaya pada hal-hal baik. Karena dalam hidupnya, yang baik selalu pergi. Atau berubah menjadi luka.