Anis pulang ke rumah dengan langkah lelah. Seperti biasanya, tak ada sosok yang menyambut kedatangannya. Saat liburan pun, ia tak bepergian bersama keluarga seperti teman-temannya, semuanya ia lalui seorang diri.
Rumah yang cukup luas itu hanya diisi olehnya. Sejak usianya 10 tahun, Anis memang tinggal terpisah dari kedua orang tuanya. Awalnya, ada asisten rumah tangga (ART) yang datang setiap pagi dan pulang pada sore hari. Namun, sejak masuk SMP, Anis memilih untuk mengurus rumah sendiri, tanpa ART, tanpa siapa pun. Sesekali, saat akhir pekan, teman-temannya menginap untuk menemaninya, atas kemauan temannya sendiri tentunya.
Sesampainya di rumah, ia langsung ke kamarnya. Melepaskan sepatu, mengambil baju rumah, dan segera mandi. Segarnya air wudhu membuatnya sedikit lebih tenang sebelum ia menunaikan salat Dzuhur.
Usai salat, Anis melangkah ke dapur. Ia memutuskan memasak sayur asem, cukup sedikit karena hanya untuk dirinya. Jangan remehkan kemampuan masaknya, Bu Win ART di rumah orang tuanya dulu, pernah memuji masakan Anis, lezat dan layak disajikan.
Setelah makan, ia melanjutkan hari dengan bersih-bersih rumah dan sedikit bersantai. Hingga suara azan Ashar terdengar, Anis kembali ke kamar mandi untuk bersuci.
Selesai salat dan membaca Al-Qur'an sejenak, ia menuju ruang TV. Menonton televisi menjadi hiburan sederhana dalam kesehariannya yang sunyi. Hidupnya terasa monoton dan sepi. Meski begitu, ia tetap bersyukur masih punya rumah, walau dalam hati ia merasa rumah itu seperti "tempat pembuangan". Ia lebih memilih itu ketimbang harus tidur di jalanan. Setidaknya, itu pertanda kalau orang tuanya masih peduli.
Bukan hanya rumah, Anis juga diberikan kartu ATM dan tetap disekolahkan. Tapi untuk rapat wali murid atau pengambilan rapor, selalu ART yang datang mewakili. Anis tak peduli semua itu. Yang ia rindukan hanya satu: kehadiran dan kasih sayang orang tuanya, seperti yang mereka tunjukkan kepada kakaknya.
Katanya, perlakuan yang kita berikan akan kembali pada kita. Tapi, kenapa itu tak berlaku untuk Anis?
###
Pagi itu, saat masih duduk di kelas 3 SD, Anis tengah membereskan perlengkapan sekolahnya. Besok adalah hari pertama masuk untuk kelas 4 SD, dan dia sangat antusias.
Tiba-tiba, Vanessa, kakaknya, masuk ke kamar.
"Kamu udah ditunggu Pak Imam di depan," ujarnya singkat.
"Mau ke mana, Kak?" tanya Anis. Pak Imam adalah sopir keluarga mereka, yang sudah lama bekerja sejak Anis belum lahir.
"Udah, ikut aja," jawab Vanessa sambil menarik tangan Anis dengan agak kasar. Di belakangnya, Bu Win mengikuti sambil membawa tas Anis yang sudah diisi buku sekolah. Anis merasa bingung, kalau mau liburan, kenapa bawa perlengkapan sekolah?
Anis hanya bisa diam saat duduk di mobil bersama Bu Win. Ia bertanya apakah kakaknya tak ikut, karena Vanessa malah masuk kembali ke rumah. Di ambang pintu, tampak papa dan mama Anis berdiri dengan ekspresi datar, membuat suasana makin ganjil.
Mobil pun melaju meninggalkan rumah, dan Anis makin kebingungan saat melihat Bu Win menangis diam-diam.
"Ibu kenapa? Kita mau ke mana? Kenapa kakak, papa, dan mama nggak ikut?" tanya Anis kecil, bertubi-tubi. Tapi Bu Win hanya memberikan senyum tipis sambil menahan tangis, membuat perasaan Anis semakin tak menentu. Pak Imam di depan tampak menunduk, ikut merasakan kesedihan.
Sekitar 45 menit kemudian, mereka tiba di rumah kecil tanpa pagar, dengan satu teras sederhana.
"Bu, ini rumah siapa?" tanya Anis kecil lagi. Bu Win tetap menjawab dengan senyuman hambar.
"Ayo masuk, mbk" ajaknya lembut. Pak Imam mengeluarkan koper-koper Anis dari bagasi. Anis terkejut saat sadar semua barang miliknya dibawa.
Di dalam rumah, Bu Win mengajak Anis duduk di sofa sementara Pak Imam memasukkan koper-koper ke satu-satunya kamar yang ada.
"Kenapa kita di sini, Bu? Harusnya papa, mama, dan Kak Vanessa ikut biar nggak sepi," ucap Anis kecil polos.
"Mbak Anis, sekarang Mbak Vanessa sudah kelas 6, jadi dia harus lebih fokus belajar buat masuk SMP. Sementara itu, Mbak Anis tinggal di sini dulu ya. Nanti pagi sampai sore ada Ibu yang nemenin," jelas Bu Win dengan nada mencoba menenangkan.
Anis diam. Mencoba mencerna apa yang terjadi.
"Anis nggak boleh ketemu kak Vanessa lagi? Anis ganggu, ya? Anis nggak mau tinggal sendiri di sini, Bu. Anis mau bareng papa mama!" rengeknya sambil menangis dan memeluk Bu Win.
"Enggak, sayang. Mbak Anis nggak ganggu siapa-siapa. Cuma Kak Vanessa perlu belajar. Nanti Ibu usahain bisa nginep di sini juga ya," ucap Bu Win, berusaha menenangkan.
Pak Imam menambahkan, "Iya, nanti Pak Imam juga bakal nganter Mbak Anis ke sekolah tiap pagi."
###
Malam itu, Bu Win serta Pak Imam, meski tanpa izin dari orang tua Anis, memutuskan bermalam di rumah itu demi menemani gadis kecil yang baru saja ‘dipisahkan’ dari keluarganya. Mereka tahu mungkin akan dimarahi, bahkan dipotong gaji. Tapi mereka tak peduli, yang penting Anis tidak merasa benar-benar sendirian.