Cerita

(2) Pralaya Setelah Cahaya

2 – Anak yang ingin menghilang Sean masih berumur sepuluh tahun ketika ia rasa dunianya kacau. Sore itu hujan turun tipis, ia da…

2 – Anak yang ingin menghilang

Sean masih berumur sepuluh tahun ketika ia rasa dunianya kacau.

Sore itu hujan turun tipis, ia dan kakanya baru saja keluar dari toko buku. Sean berjalan sedikit lebih dulu, dengan membaca buku komik yang baru saja ia beli, melangkah ke trotoar tanpa melihat kanan kiri.

Sebuah klakson panjang memekakkan telinga. Semuanya terjadi terlalu cepat. Seseorang menarik tubuhnya keras kebelakang. Tubuh lain terdorong ke depan.

Suara benturan. Jeritan orang orang sekitar. Dan hujan yang tiba tiba terasa lebih dingin.

            “ KAK!..”

Suara Sean tercekat di tenggorokan, kakaknya terbaring di aspal, darah bercampur air hujan

Mata yang biasanya hangat itu terbuka setengah, menatap Sean dengan sisa sisa kesadaran.

            “ Gapapa..” bisik kakaknya pelan. “ Sean jangan nangis..”

Itu kalimat terakhirnya.

Pintu ICU terbuka dengan bunyi pelan yang terasa lebih nyaring dari apa pun.

Dokter keluar lebih dulu. Masker masih menutup wajahnya, tapi mata itu sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.

            “ maaf… pasien tidak bisa diselamatkan”

Kalimat pertama yang keluar membuat dunia runtuh. Ibu Sean menangis sampai suara habis. Ayah Sean berdiri kaku seperti patung, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang lebih besar dari amarah, penyesalan, kehilangan, mungkin juga menyalahkan diri sendiri.

Di kursi tunggu, Sean duduk tanpa bergerak. Tangannya bergetar. Matanya penuh air yang siap jatuh deras, tapi seperti tertahan oleh sesuatu yang tak terlihat.

Kalau saja dia tidak ceroboh. Kalau saja dia lebih berhati hati. Kalau saja dia menoleh dulu. Kalau saja... kata itu menghantuinya.

Suara tangis ibunya seperti gema jauh. Orang orang berlalu lalang. Perawat berlari kecil. Sirene ambulan terdengar dari kejauhan. Tapi di kepala Sean semuanya sunyi.

Ia berdiri perlahan. Tidak ada yang menyadari. Ia berjalan keluar rumah sakit, melewati pintu otomatis yang membuka dengan bunyi mekanis dingin

Sean berdiri di tepi trotoar. Tatapannya kosong. Tiba tiba pikirannya terasa sederhana.

Kalau satu nyawa bisa menggantikan satu nyawa mungkin semuanya akan adil.

Mobil melaju dengan cepat di depannya. Angin dari kendaraan yang lewat menyibakkan rambutnya. Ia melangkah turun dari trotoar.

Satu langkah

Lalu satu lagi

Disisi lain pelataran rumah sakit, seorang anak perempuan berumur sembilan tahun berjalan sambil menggenggam tangan ibunya. Jonan.

            “ kita cuma sebentar ya nak,”

            “ nanti bunda buatin soft cookies lagi”

Jonan mengangguk cepat. Ia selalu ikut mengantar ibunya kemoterapi. Ia tahu bunda tidak suka sendirian.

Saat ibunya masuk kembali ke dalam untuk mengambil sesuatu yang tertinggal, Jonan berdiri di dekat pagar pembatas parkir, menunggu.

Lalu matanya menangkap sesuatu. Seoarng anak laki laki berdiri tidak terlalu jauh dari trotoar. Terlalu dekat dengan jalan. Dan ada mobil yang melaju kencang dari arah kanan.

            “ HEY!”

Jonan berteriak, tapi anak itu tidak bergerak mundur. Waktu seperti melambat. Tanpa pikir panjang, Jonan berlari. Ia menarik tangan anak laki laki itu sekuat tenaga tepat ketika mobil melintas dengan klakson panjang memekakkan telinga. Tubuh mereka terjatuh ke aspal pinggir jalan. Napas Jonan terengah.

            “ gila ya kamu?!”

Teriak Jonan dengan suara gemetar antara marah dan takut. Anak laki laki itu linglung.

            “ aku.. harusnya aku yang mati”

Jonan mengerutkan kening. Ia tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia tahu satu hal, kata kata itu berbahaya.

            “ kalau kamu mati, orang tua kamu bakal sedih” katanya polos, tapi tegas

Anak laki laki itu menatapnya. Jonan menunjuk dada anak itu

            “ kalau kamu hidup baik baik, orang yang kamu sayang juga akan bahagia”

Hening beberapa detik

Jonan berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang juga memperlihatkan tanda lahir kecil untuk membantu anak laki laki itu berdiri juga.

Sebelum anak laki laki itu sempat berkata kata lagi, orang yang mengerubungi mereka mulai ramai. Suara ibu Jonan juga mencari dibalik kerumunan itu.

            “ Jonan!”

Jonan menoleh sebentar, lalu berlari menghampiri ibunya. Meninggalkan seorang anak laki laki yang berdiri terpaku.

Untuk pertama kalinya sejak keluar dari ICU, napas Sean terasa masuk kembali ke paru paru. Sekali lagi ia diselamatkan, tapi kali ini orang yang menyelamatkannya tidak berakhir kehilangan nyawa.

Sejak saat itu, Sean belajar lebih keras. Berusaha jadi anak yang tidak merepotkan. Berusaha tidak membuat khawatir orang tuanya. Ia menjadi versi terbaik dari dirinya, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk seseorang yang sudah pergi, untuk orang tuanya, untuk orang yang ia sayangi.

Dan ia tidak akan lupa nama dan tanda lahir dipunggung tangan itu. Ia mencarinya disetiap kesempatan. Bertahun tahun.

Ia pernah kembali ke rumah sakit tempat kejadian itu, berharap tuhan kebetulan mempertemukan mereka kembali. Ia berjalan menyusuri jalan kejadian itu berulang kali. Ia bahkan sempat melihat ke beberapa sekolah sekitar, tapi hasilnya nihil.

Jonan seperti cahaya kecil yang muncul sekali, lalu menghilang.

Sampai hari pertama MPLS di SMAnya.

Lapangan sekolah penuh dengan siswa baru. Panas. Ribut. Bising.

Sebagai ketua OSIS, Sean berdiri di depan barisan, mengawasi. Lalu matanya mengkap satu sosok yang mungkin familiar. Seorang gadis di barisan paling belakang. Seragamnya rapi, tapi wajahnya penuh memar. Tatapannya datar, seperti tidak peduli pada dunia. Tangannya menggenggam tali tas terlalu erat.

Dan punggung tangan kanannya, ada tanda lahir kecil yang sangat jelas ia ingat.

Jantung Sean berhenti sepersekian detik. Mungkinkah ia akhirnya menemukannya. Sean berjalan melewati barisan.

Semakin dekat.

Semakin jelas.

Ia tidak salah. Itu dia. Anak kecil yang dulu menariknya dari pikiran jebakan setan itu.

Sean berdiri di depannya

            “ nama?”

            “ Jonanda Anggita” gadis itu menatapnya dan menjawab tanpa ekspresi.

Sean tersenyum kecil. Jonan. Akhirnya.

Shofia Faradita
Tentang penulis

Shofia Faradita

Aku Shofia, seorang mahasiswa akuntansi yang memiliki minat dalam menulis sesuatu serta menyukai perpaduan kreativitas dan analisis. Antusias terhadap tantangan baru dan terus bertumbuh di dunia profesional.

Lihat Semua Tulisan →

Mari Mengenal Lewat Tulisan Sebuah ruang kecil yang berisi kata, cerita, dan kreativitas.

Terima Kasih telah mengunjungi website pribadiku. Semoga setiap tulisan yang aku bagikan dapat memberikan makna dan menemanimu

Mulai Membaca