Hari terakhir ujian tiba. Anis datang ke sekolah dengan mata panda, tubuh lemas, dan kepala pusing. Tapi ia paksakan. Ia tak ingin menyerah.
Selesai ujian, Anis berjalan sendirian keluar dari kelas. Rayyan menghampirinya.
"Nis, bisa ngobrol sebentar?"
Mereka duduk di bangku taman seperti biasa. Rayyan terlihat serius. Ia mengeluarkan sebuah amplop putih dari tasnya dan memberikannya pada Anis.
Anis membuka perlahan. Sebuah surat penerimaan dari universitas luar negeri. Di pojoknya, logo Universitas di Jerman.
"Aku keterima. Jurusan teknik biomedis."
Anis terdiam. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Berangkat kapan?"
"Bulan depan."
Seketika Anis merasa sendirian. Ia baru saja ditinggali tanggung jawab besar. Dan sekarang yang selama ini jadi sandaran... akan pergi.
"Selamat ya," kata Anis pelan.
Rayyan menatap Anis dalam-dalam. "Aku hampir nggak daftar. Tapi kamu yang pernah bilang, kalau ada kesempatan harus diambil."
Anis tersenyum pahit. "Waktu itu aku nggak nyangka bakal ditinggal."
"Aku juga nggak nyangka kamu harus ngurus bayi. Tapi hidup kayak gini, Nis. Penuh kejutan."
Mereka terdiam. Angin sore berhembus pelan. Waktu seperti berhenti.
"Kamu kuat, Nis. Kamu luar biasa. Aku tahu kamu bisa lewatin ini semua. Tapi... aku juga mau kamu tahu, kamu nggak harus ngelakuin semuanya sendirian."
Air mata Anis jatuh.
"Maaf… Kalau aku nggak pergi, orang tuaku...”
“Tapi kalau aku pergi tanpa bilang, aku akan lebih menyesal."
Anis menatap Rayyan. Mata itu... begitu tulus, begitu jujur. “Aku ngerti kok” jawab Anis lesu
"Nanti... kalau aku balik, kamu masih di sini?"
Anis mengangguk pelan. "Aku nggak ke mana-mana."
Rayyan tersenyum. "Kalau begitu, aku punya alasan buat pulang."
Hari itu, mereka tidak memeluk. Tidak juga mengucap janji manis. Tapi keduanya tahu, meski jarak memisahkan, ada sesuatu yang mengikat. Sesuatu yang tumbuh bukan karena paksaan, tapi karena saling percaya.
Dan Anis? Ia tetap melangkah. Dengan bayi kecil di tangannya, ujian hidup yang tak pernah ia minta, dan kenangan tentang seorang Rayyan dan juga keyakinan mereka tentang "Seseorang tidak akan pernah sendirian.”
###
Hari-hari berikutnya berlalu dalam kabut.
Untungnya setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Bu Win datang ke rumahnya untuk menjaga “Fathi” bayi laki laki yang tampan dan mirip kakanya. Ia belajar di sela waktu luang, dan begadang di malam hari sambil menjaga Fathi tidur. Wajahnya semakin pucat, tubuhnya lelah. Tapi semangatnya tidak padam.
Yaya, Tata, atau bahkan Rayyan sering datang ke rumah, tanpa banyak bicara. Kadang hanya membantu mencuci botol susu, kadang menjaga Fathi sebentar agar Anis bisa mandi dengan tenang. Persahabatan mereka tidak pernah diucapkan secara resmi, tapi mereka tahu. Peduli, dan percaya dengan satu sama lain.
Namun waktu mereka terbatas. Setiap hari terasa seperti menghitung mundur menuju kepergian teman temannya. Yaya akan pindah kota untuk melanjutkan pendidikannya, Tata juga sama tapi dengan kota tujuan yang berbeda, dan Rayyan.. dia yang akan pergi paling jauh, kuliah di Jerman.
Suatu malam, menjelang hari terakhir ujian, Anis duduk di teras rumah sambil menggendong Fathi yang baru saja tertidur. Yaya duduk di sampingnya.
“Kamu capek banget,” ucap Yaya.
“Banget,” jawab Anis sambil tersenyum lelah.
“Kamu luar biasa, Nis. Beneran,” lanjut Yaya. “Kalau aku di posisimu... aku mungkin udah nyerah.”
Anis menggeleng pelan. “Kalau bukan aku, siapa lagi? Masa aku biarin bayi nggak berdosa ini dibuang?”
Mereka terdiam. Angin malam berhembus perlahan. Suara jangkrik mengisi kekosongan.
Empat Tahun Kemudian
Matahari sore menyinari halaman rumah sederhana tempat Anis tinggal. Bayi yang dulu dibawa Vanessa, kini tumbuh menjadi anak kecil yang ceria. Meski pada awalnya penuh penolakan dan ketidak ikhlasan, Anis akhirnya bisa mencintai anak itu sepenuh hati. Fathi memanggil Anis dengan sebutan "Bunda", dan hanya orang terdekat yang tahu bahwa ia sebenarnya bukan anak kandung Anis.
Setelah lulus SMA dengan nilai yang membanggakan, Anis memutuskan tidak melanjutkan kuliah dulu demi membantu merawat Fathi dan membiayai kehidupan mereka. Ia mengambil kursus online dan bekerja sebagai penulis lepas. Kesibukan itu sedikit banyak mengurangi rasa rindunya pada Rayyan dan teman temannya, walau tak pernah benar-benar hilang.
Selama empat tahun terakhir, Rayyan dan teman temannya tidak pernah benar-benar lepas komunikasi dengannya. Meski dengan Rayyan berbeda zona waktu, mereka selalu mencari waktu untuk saling bertukar kabar, kadang hanya satu kalimat, kadang panggilan video panjang saat Anis berhasil menidurkan Fathi lebih awal.
Rayyan sering mengirim oleh-oleh khas Jerman lewat pos. Anis membalas dengan hasil karyanya sendiri, tulisan, lukisan kecil, bahkan video Fathi yang tumbuh semakin pintar.
Namun, tidak semua hubungan berjalan mulus. Keluarga Rayyan diam-diam tak setuju dengan hubungan mereka. Ibunya berharap Rayyan menikah dengan gadis selevel mereka, mungkin yang kuliah di luar negeri juga, atau anak kolega sang ayah. Sementara itu, keluarga Anis tak peduli apa yang terjadi padanya, bahkan kakanya tidak sekalipun bertanya tentang Fathi. Hanya Bu Win yang sesekali datang ke rumahnya untuk membantu menjaga Fathi atau membersihkan bagian rumah.