Cerita

1 Shankara

Pagi itu langit tampak mendung, dan seorang siswi SMA tampak tergesa-gesa menuju sekolahnya, SMA Nusa Raya. "Aduh, kenapa hari ini h…

Pagi itu langit tampak mendung, dan seorang siswi SMA tampak tergesa-gesa menuju sekolahnya, SMA Nusa Raya.

"Aduh, kenapa hari ini harus telat sih? Semoga gerbangnya belum ditutup," keluhnya.

Gadis itu bernama Anisa Putri Hermawan, anak kedua dari pasangan Hermawan dan Rania. Kakaknya, Alexia Vanessa Hermawan, sedang menempuh kuliah di Amerika Serikat.

Anis dikenal sebagai sosok yang ceria, cukup cerdas, dan punya hati yang baik. Bahkan saking baiknya, ia kerap dimanfaatkan oleh teman-teman yang berpura-pura baik padanya dan tentu saja Anis menyadari itu.

"Pak, tunggu!" serunya begitu melihat Pak Yanto, satpam sekolah, yang hendak menutup gerbang.

"Ayo, Mbak Anis, cepat! Upacaranya mau dimulai," sahut Pak Yanto.

Tak heran jika mereka terlihat akrab, Anis sering membawakan bekal untuk Pak Yanto. Lelaki paruh baya itu, yang usianya sekitar 45 tahun, telah lama kehilangan istrinya dan kini ia tinggal sendirian karena putrinya sudah menikah.

"Terima kasih, Pak!" teriak Anis sambil berlari melintasi gerbang. Ia tahu tak sopan, tapi ini situasi darurat, dia tak ingin malu di depan adik-adik kelas karena terlambat. Anis kini sudah naik ke kelas 12.

Namun, belum sempat masuk barisan, seorang guru menarik lengannya. Itu Bu Atik, guru BK.

"Kenapa bisa telat, Anis?" tanyanya.

"Bangun kesiangan, Bu," jawab Anis sambil tersenyum malu.

"Ikut Ibu, nanti setelah upacara, kamu bantu bersihkan kamar mandi ya," ucap Bu Atik sambil menggandeng Anis. Anis hanya bisa pasrah. Padahal upacara belum dimulai, para murid pun baru mulai berbaris.

Anis kemudian ditempatkan di barisan khusus untuk siswa yang datang terlambat, sekitar 10 orang. Tak lama, upacara dimulai, dan semua ikut khidmat menjalani prosesi.

###

Begitu upacara selesai, Anis dan siswa lain yang terlambat diarahkan untuk membersihkan kamar mandi. Untungnya, kamar mandi yang ditugaskan pada Anis dan dua siswa lainnya tidak terlalu kotor, jadi mereka cepat selesai.

Selesai menjalani hukuman, Anis menuju kelas barunya, 12 IPA-1. Bu Atik tadi memberitahunya bahwa inilah kelasnya.

Pembagian kelas di SMA Nusa Raya memang berdasarkan kemampuan akademik. Kelas IPA-1 diisi oleh siswa-siswa berprestasi. Anis sendiri terkejut bisa masuk ke kelas tersebut. Ia merasa dirinya hanya siswa biasa-biasa saja, namun tetap bersyukur atas hasil itu.

Di depan kelas, ia melihat daftar nama yang ditempel di kaca jendela. Namanya ada di sana, bahkan teman-teman dekatnya juga, apakah ini kebetulan yang menyenangkan?. Mereka tidak saling mencontek saat ujian, karena ujiannya online dan soalnya diacak, serta ruangan ujian pun berbeda.

Setelah tenang, Anis masuk ke kelas dengan canggung. Tak ada guru di sana karena hari itu hari pertama masuk sekolah. Tapi semua murid langsung menoleh saat dia masuk. Suasana yang semula ramai langsung hening.

"Hai, aku Anis," sapanya kaku. Mendadak, seisi kelas tertawa.

Anis bingung, sampai dua temannya memanggilnya: Putri Mareta Ayu (Reta/Tata) dan Cahya Dwi Putri (Yaya). Meskipun sebelumnya di kelas 11 mereka terpisah, kini mereka kembali sekelas.

Mereka bertiga berteman akrab, konon karena nama mereka sama-sama mengandung kata "Putri". Aneh, tapi nyata.

"Malu ah, kenapa kalian malah ikut ketawa?" protes Anis.

"Kamu tuh lucu banget, kayak anak itik kehilangan induk," canda Yaya.

Tiba-tiba Reta berdiri dan meminta gadis pendiam di depannya untuk berpindah tempat agar Anis bisa duduk bersama mereka. Anis kaget, itulah gaya Reta yang kadang suka memaksa.

"Enggak perlu, dia duluan duduk di situ. Aku cari tempat lain aja," jawab Anis.

Ia memilih duduk di bangku kosong yang tersisa, di pojok, sebelah siswa laki-laki yang sedang tertidur dengan tangan terlipat.

Anis langsung mengenalinya. Itu adalah Rayyan Giatsah Hamdillah, siswa jenius, juara satu seangkatan, bahkan sekolah. Dia sering mewakili sekolah dalam olimpiade sains dan matematika. Tapi dia dikenal sebagai sosok pendiam dan tertutup. Mungkin itu sebabnya tidak ada yang duduk di sebelahnya.

"Hai, aku Anis. Mohon bantuannya ya," sapa Anis sambil menyenggolnya.

Namun Rayyan tidak menjawab, malah memalingkan wajah ke arah tembok. Anis sempat berpikir dia sedang sakit, karena memakai jaket. Tapi kemudian ia ingat, Rayyan memang selalu memakai jaket, setiap hari.

###

Hari berjalan seperti biasa, hingga waktu pulang tiba. Karena belum ada kegiatan belajar-mengajar, sekolah pulang lebih awal, meski jam menunjukkan pukul 12 siang.

"Bye, Nis!" seru Yaya sambil lari keluar. Tata sudah lebih dulu pulang.

"Iyaaa," jawab Anis sambil tersenyum.

Ia berjalan sendiri menuju halte. Suasana halte sangat ramai, mungkin karena matahari sudah tinggi, padahal pagi tadi agak mendung. Tak lama kemudian, angkutan umum yang akan membawanya pulang pun datang.

Shofia Faradita
Tentang penulis

Shofia Faradita

Aku Shofia, seorang mahasiswa akuntansi yang memiliki minat dalam menulis sesuatu serta menyukai perpaduan kreativitas dan analisis. Antusias terhadap tantangan baru dan terus bertumbuh di dunia profesional.

Lihat Semua Tulisan →

Mari Mengenal Lewat Tulisan Sebuah ruang kecil yang berisi kata, cerita, dan kreativitas.

Terima Kasih telah mengunjungi website pribadiku. Semoga setiap tulisan yang aku bagikan dapat memberikan makna dan menemanimu

Mulai Membaca