Cerita

(1) Pralaya Setelah Cahaya

1 – Anak yang selalu disalahkan Nama itu selalu disebutkan dengan suara pelan di Lorong sekolah “Jonanda Anggita”. Buka…

1 – Anak yang selalu disalahkan

Nama itu selalu disebutkan dengan suara pelan di Lorong sekolah “Jonanda Anggita”. Bukan karena dia juara kelas. Bukan karena dia anak osis berprestasi. Bukan juga karena dia populer. Tapi karena dia masalah.

Anak perempuan yang katanya nggak beres, ikut tawuran antar sekolah, berani berurusan dengan preman pasar, wajahnya hampir selalu punya luka baru.

Hari itu, seperti biasa, bisik bisik kembali terdengar saat ia melangkah masuk ke dalam kantin untuk membeli sebotol air mineral dingin.

“ itu tuh yang minggu lalu bibirnya sobek”

“ katanya dia yang mukul duluan”

“ perempuan tapi serem banget sumpah”

Jonan tidak menoleh. Tidak melambat. Tidak peduli. Ia sudah terlalu sering mendengar itu semua. Seragamnya rapi, meski ada sedikit noda di ujung bajunya, rambutnya diikat tinggi memperlihatkan memar samar di pelipis yang mulai menguning, bibirnya pecah di satu sisi. Semua orang mengira itu hasil tawuran.

Padahal itu cuma separuh cerita

 

Dulu, saat usianya sembilan tahun, hidupnya tidak seperti ini. Ia pernah jadi anak yang pulang sekolah disambut pelukan. Pernah jadi anak yang rambutnya dikepang rapi setiap pagi. Pernah jadi anak yang tidur dengan cerita sebelum terlelap. Sampai bundanya meninggal. Karena kanker.

Dan sejak saat itu, rumah berubah, awalnya hanya sepi. Lalu empat bulan kemudian ayahnya menikah lagi. perempuan itu datang dengan senyum yang terlalu manis dan suara yang terlalu lembut untuk jadi nyata.

            “ aku cuma mau jadi ibu yang baik buat kamu, Jo” ia masih sembilan tahun saat itu, ia belum tahu bahwa ada orang yang bisa tersenyum sambil menanam api.

            “ Jo! Kamu lagi lagi nggk cuci piring ya?!”

Suara ibu tirinya memecah di pagi hari, Jonan yang sedang memakai sepatu menoleh cepat

            “ aku udah cuci tadi, bu”

            “ oh ya? terus ini apa?”

Ia menunjuk satu gelas yang tertinggal di watefel

            “ itu gelas ayah tadi..” ayahnya baru minum kopi sebelumnya dan Jonan lupa tidak langsung mencucinya.

            “ jadi kamu nyalahin ayah kamu?”

Jonan terdiam. Ia tahu jebakan ini, kalau ia menjawab berarti ia kurang ajar, kalau ia diam berarti ia mengakui.

Pintu kamar terbuka. Ayahnya baru selesai bersiap untuk berangkat kerja.

            “ ada apa?”

Dan seperti biasa, ibu tirinya lebih dulu bersuara.

“ mas, aku nggk kuat kalo Jo terus terusan begini. Aku cuma minta dia tanggung jawab sedikit aja. Tapi dia malah ngejawabin aku terus”

            “ aku nggk….”

PLAK

Tamparan itu cepat. Keras. Membuat kepalanya menoleh ke samping.

            “ kalau orang tua ngomong, dengerin!” bentak ayahnya

Jonan yang berumur sebelas tahun saat itu hanya menggigit bagian dalam pipinya, menahan air mata yang hampir jatuh.

Tangan yang dulu membelai rambutnya sebelum tidur, kini lebih sering membuatnya lebam.

Itu sebabnya Jonan ikut tawuran. Bukan karena keren atau ingin ditakuti. Tapi karena disana ada keadilan, kalau dipukul, dia bisa membalas. Tidak seperti di rumah.

 

Bel berbunyi

Di ruang kelas X IPS 2, Jonan duduk di bangku paling belakang. Kepala disandarkan ke dinding. Guru menjelaskan. teman temannya mencatat. Jonan menatap keluar jendela, ia tidak pernah benar benar ada di ruangan mana pun. Tidak di rumah. Tidak di sekolah. Tidak dihidup siapa pun. Ia hanya bertahan. Sampai suatu hari nanti, mungkin, semuanya berhenti.

Tanpa ia sadari, dari lantai dua Gedung Seberang, sepasang mata memperhatikannya lama. Tenang. Tajam. Penuh sesuatu yang sulit dijelaskan.

Seandra Pasukan. Ketua OSIS.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun mencari, jatungnya berdegup tidak teratur. Karena tanda lahir kecil di pungung tangan gadis itu.

Persis seperti yang ia ingat.

Shofia Faradita
Tentang penulis

Shofia Faradita

Aku Shofia, seorang mahasiswa akuntansi yang memiliki minat dalam menulis sesuatu serta menyukai perpaduan kreativitas dan analisis. Antusias terhadap tantangan baru dan terus bertumbuh di dunia profesional.

Lihat Semua Tulisan →

Mari Mengenal Lewat Tulisan Sebuah ruang kecil yang berisi kata, cerita, dan kreativitas.

Terima Kasih telah mengunjungi website pribadiku. Semoga setiap tulisan yang aku bagikan dapat memberikan makna dan menemanimu

Mulai Membaca